Kuartal II/2019, Utang Luar Negeri Indonesia Capai US$391,8 Miliar

Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir kuartal II/2019 tercatat sebesar US$391,8 miliar atau tumbuh 10,1%.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  15:16 WIB
Kuartal II/2019, Utang Luar Negeri Indonesia Capai US$391,8 Miliar
Ilustrasi - Bisnis/Saeno M Abdi

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir kuartal II/2019 tercatat sebesar US$391,8 miliar atau tumbuh 10,1%.

Melalui siarannya, Bank Indonesia merincikan ULN kuartal II/2019 itu terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$195,5 miliar, serta utang swasta termasuk BUMN sebesar US$196,3 miliar.

ULN Indonesia tersebut tumbuh 10,1% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 8,1% (y-o-y), terutama dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto ULN dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS.

Peningkatan pertumbuhan ULN terutama didorong oleh ULN pemerintah, di tengah perlambatan ULN swasta.

Pertumbuhan ULN pemerintah yang meningkat sejalan dengan persepsi positif investor asing terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Posisi ULN pemerintah pada akhir kuartal II/2019 tercatat sebesar US$192,5 miliar atau tumbuh 9,1% (y-o-y), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 3,6% (y-o-y).

Bank Indonesia menyatakan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia yang semakin meningkat, seiring dengan kenaikan peringkat utang Indonesia oleh Standard & Poor’s pada akhir Mei 2019, mendorong pembelian neto Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan global oleh nonresiden pada kuartal II/2019.

Pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 18,9% dari total ULN pemerintah, sektor konstruksi 16,4%, sektor jasa pendidikan 15,9%; sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 15,2%; serta sektor jasa keuangan dan asuransi 14,0%.

ULN swasta tumbuh melambat. Posisi ULN swasta pada akhir kuartal II/2019 tumbuh 11,4% (y-o-y), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 13,3% (y-o-y).

Perlambatan ULN swasta terutama disebabkan oleh meningkatnya pembayaran pinjaman oleh korporasi.

Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,9%.

BI mengklaim struktur ULN Indonesia tetap sehat meski rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal II/2019 sebesar 36,8%, membaik dibandingkan dengan rasio pada kuartal sebelumnya.

Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 87,0% dari total ULN.

Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
uln

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top