Orang Indonesia Makin Hobi ke Luar Negeri, Defisit Neraca Jasa Pun Bengkak

Impor jasa perjalanan yang meningkat selama semester I ditengarai menjadi penyebab terjadinya defisit neraca perdagangan jasa menjadi US$3,8 miliar, meningkat tajam dari periode yang sama tahun lalu yang senilai US$3,4 miliar. 
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  14:37 WIB

Bisnis.com, JAKARTA —  Impor jasa perjalanan yang meningkat selama semester I ditengarai menjadi penyebab terjadinya defisit neraca perdagangan jasa menjadi US$3,8 miliar, meningkat tajam dari periode yang sama tahun lalu yang senilai US$3,4 miliar. 

Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah wisatawan yang melakukan perjalanan wisata ke luar negeri (outbound) mencapai 5,2 juta wisatawan atau tumbuh 10% pada semester I tahun ini dibandingkan dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 4,73 juta wisatawan. 

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan penyebab utaman terjadi defisit neraca jasa yakni sektor jasa perjalanan atau pariwisata yang mengalami penurunan tajam. 

"Surplus turun ke US$805 juta pada kuartal II 2019 atau lbih rendah -22% YoY dibanding dengan posisi tahun lalu," ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (13/8/2019).

Hal ini disebabkan rendahnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) karena faktor bencana alam di beberapa destinasi wisata, mahalnya tiket psawat untk penerbangan domestik, rendahnya daya saing pariwisata, serta belum optimalnya infrastruktur untk tunjang pariwisata. 

"Negara asal wisman seperti China dan Eropa juga sedang menghadapi perlambatan ekonomi. Ini juga disebabkan karena harga tiket pesawat yang mahal sehingga spending wisata rendah. Harusnya turis bisa pindah k beberapa lokasi wisata (Bali—Komodo—Raja Ampat) karena naiknya harga tiket banyak hnya d satu destinasi," kata Bhima. 

Policy Analyst dari Indonesia Services Dialogue (ISD), Muhammad Syarif Hidayatullah mengatakan hingga semester I/2019, nilai surplus sektor travel mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu turun dari US$2,5 miliar menjadi US$2,1 miliar. 

Turunnya surplus ini disebabkan dengan pertumbuhan import jasa travel yang mencapai 10,05% pada periode ini, sangat jauh apabila dibandingkan pertumbuhan ekspor jasa travel yang hanya mencapai 0,09%. 

"Ekspor jasa travel yang menurun terlihat pada angka traveler inbound dan outbound. Pada semester I/2019, traveler outbound mencapai 5,2 juta orang, tumbuh sekitar 10% apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018, sedangkan traveler inbound justru mengalami penurunan dari 6,1 juta menjadi 6 juta orang," ucapnya. 

Menurutnya, peran jasa travel sangat penting dalam neraca jasa. Oleh sebab itu, perkembangan sektor pariwisata menjadi sangat penting. 

Berdasarkan hasil survei, portfolio produk pariwisata Indonesia terbagi tiga yakni 35% berupa wisata alam, 60% berupa wisata budaya, 5% berupa wisata buatan manusia. 

Daya saing Indonesia untuk ketiga produk wisata tersebut masih relatif rendah, hal ini terlihat pada perbandingan antar objek wisata dengan Negara competitor Indonesia seperti Thailand dan Malaysia. 

Contohnya, untuk wisata selam, diving spot Indonesia di Raja Ampat dikunjungi wisatawan mancanegara sebanyak 18.000 wisatawan, masih kalah jauh dengan spot diving di Thailand (Phi Phi Islaand) yang mencapai 30.000 wisatawan dan Malaysia (Sipadan) yang mencapai 774.000 wisatawan. 

Hal yang sama terjadi pada produk wisata budaya, di mana jumlah wisman yang datang ke Borobudur pada 2014 hanya mencapai 254.000 wisatawan, jauh apabila dibandingkan dengan Angkor Wat (Kamboja) yang mencapai 2.350.000 wisatawan dan Georgetown (Malaysia) yang mencapai 720.000 wisatawan. 

Dia menilai secara potensi seharusnya sektor pariwisata Indonesia masih bisa berkembang. Namun, dari beberapa sisi Indonesia masih kalah dalam daya saing pariwisata dibandingkan dengan negara-negara kawasan Asean.

Berdasarkan survei WEF, Indonesia kalah dari negara Asean lain, seperti Thailand, itu di banyak sisi, contohnya keamanan, kebersihan, kesehatan, SDM, konektivitas, dan lain sebagainya. 

Untuk itu, sebutnya, pemerintah perlu fokus dalam mendorong ekspor jasa travel dimana dalam hal ini menarik wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia. 

Dia menuturkan terdapat enam langkah yang seharusnya diambil guna mendorong potensi pariwisata nasional.  

Pertama yakni dengan mendorong pengembangan kewilayahan dan menciptakan diversifikasi atraksi pariwisata.  Lalu memperbaiki amenitas lokasi pariwisata dan memperbaiki aksesibilitas menuju lokasi wisata. 

Selain itu, peningkatan kapasitas masyarakat di lokasi wisata dan mendorong kemudahan investasi pada sektor pariwisata.

Saat ini pembangunan infrastruktur gencar dibangun sehingga aksesibilitas dapat segera diperbaiki. 

Pemerintah tentu perlu fokus kepada langkah-langkah lain, seperti meningkatkan diversifikasi atraksi pariwisata dan memperbaiki manajemen pengunjung. 

Selain itu, perlu didorong standardisasi dalam jasa pariwisata, sehingga kualitas dan layanan jasa pariwisata dapat terus dijaga dan ditingkatkan. 

Untuk jasa travel, dalam jangka pendek bisa mendorong promosi dan membuat event untuk menarik turis. dalam jangka panjang, mendorong pengembangan pariwisata berbasiskan wilayah, yang dilengkapi dengan peningkatan kualitas amenitas, aksesibilitas dan diversifikasi atraksi pariwisata. 

Dalam jangka menengah yang perlu dilakukan dengan peningkatan kualitas SDM pariwisata, terutama dengan membuat lembaga pelatihan di wilayah timur Indonesia. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top