Pemerintah Diminta Segera Atasi Masalah Industri Tekstil

Asosiasi Pertekstilan Indonesia menyatakan ribuan tenaga kerja di sektor tekstil dirumahkan akibat perusahaan tempat mereka bekerja tidak mampu menjual produk ke pasaran.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  19:23 WIB
Pemerintah Diminta Segera Atasi Masalah Industri Tekstil
Pabrik tekstil - duniatex.com

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Pertekstilan Indonesia menyatakan ribuan tenaga kerja di sektor tekstil dirumahkan akibat perusahaan tempat mereka bekerja tidak mampu menjual produk ke pasaran.

Wakil Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat Rizal Tanzil mengatakan bahwa saat ini tengah terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri tekstil Jawa Barat, khususnya di wilayah Bandung Raya.

“Laporan dari anggota kami per Juli kemarin, total sudah 36.000 karyawan yang dirumahkan," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (12/8/2019).

Pemberhentian tenaga kerja ini sebagai imbas upaya perusahaan untuk bisa bertahan dengan cara menurunkan produksi. Rizal mengatakan banyak perusahaan yang tingkat utilisasinya hanya 30% hingga 40%. Bahkan beberapa sudah ada yang setop produksi seluruhnya, terutama segmen IKM (industri kecil dan menengah).

API Jawa Barat meminta pemerintah segera mengambil tindakan penyelamatan untuk mempertahankan eksistensi sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) di Jawa Barat.

Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) Suharno Rusdi mengatakan, selain ribuan pekerja yang berharap dapat kembali bekerja di perusahaan-perusahaan yang telah merumahkannya, jutaan lainnya berharap pemerintah segera menyelamatkan industri tekstil dan produk tekstil nasional.

Dia menilai kondisi industri TPT saat ini sedang sekarat, sehingga perlu perhatian pemerintah. Berdasarkan laporan anggota Ikatsi di berbagai daerah, PHK yang terjadi disebabkan setok hasil produksi di perusahaan sudah lebih dari 3 bulan tidak dapat terjual, sehingga banyak perusahaan modal kerjanya tertahan dan tidak dapat membeli bahan baku.

"Barang impor membanjiri pasar, produsen lokal tidak dapat jual, tidak ada pesanan,” kata Harno.

Ikatsi meminta pemerintah segera turun tangan menyelamatkan industri yang berperan sebagai penyerap tenaga kerja dan penghasil devisa bersih bagi negara. “Ada sekitar 3 juta tenaga kerja di sektor tekstil yang harus segera diselamatkan,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Industri Tekstil

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top