INDUSTRI PERTEKSTILAN : Sudah Sulit Terkena Pemadaman Lagi!

Sesungguhnya, tanpa kejadian mati lampu pun industri di Jawa Barat, khususnya sektor tekstil dan garmen tengah sempoyongan.
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  08:04 WIB

Sesungguhnya, tanpa kejadian mati lampu pun industri di Jawa Barat, khususnya sektor tekstil dan garmen tengah sempoyongan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Barat (Jabar) Mohammad Ade Afriandi mengatakan, sepanjang 2015 hingga 2018, relokasi dan penutupan perusahaan padat karya tertinggi terjadi di Kabupaten Karawang dan Bekasi.

“Di dua kabupaten ini, sekarang hampir tidak terdapat pabrik garmen dan produk tekstil, yang sebenarnya merupakan penyerap tenaga kerja berketerampilan rendah,” katanya di Gedung Sate, Bandung, belum lama ini.

Ade mencatat, ancaman penutupan pabrik dan relokasi pada saat ini terjadi terutama di Kabupaten Bogor, Subang, Purwakarta, Bandung, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat.

“Di Kabupaten Bogor, jumlah pabrik yang terancam mencapai 54 buah meliputi 64.000 pekerja, di Subang terdapat 31 pabrik garmen, 5 pabrik di antaranya telah tutup pada awal 2019, meliputi 70.000 pekerja,” tuturnya.

Menurutnya, kenaikan UMK yang sangat tajam sepanjang 2015 hingga 2018 telah berkontribusi pada penurunan kinerja eksportir manufaktur di Jawa Barat.

Data Apindo dan Disnakertrans Jabar mencatat, setidaknya sepanjang 3 tahun ke belakang terdapat 21 pabrik relokasi keluar Jabar, sedangkan 143 pabrik lainnya ditutup.

Ke-164 pabrik ini tergolong pabrik-pabrik besar, yang 48% di antaranya adalah pabrik garmen, 21% pabrik produk tekstil lainnya, dan 31% sisanya adalah pabrik manufaktur lainnya. Pabrik garmen dan produk tekstil adalah industri padat karya.

“Apabila kami rata-ratakan, setiap pabrik mempekerjakan 1.500 pekerja, relokasi dan penutupan pabrik ini berdampak pada pemutusan hubungan kerja setidaknya terhadap 170.000 pekerja di sektor garmen dan produk tekstil,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Industri (Apindo) Jabar Deddy Wijaya menuturkan, pengusaha cemas bukan hanya kerugian produksi saat listrik padam, melainkan efek domino setelah kejadian tersebut selanjutnya.

“Dampak dari padamnya listrik kemarin, tidak hanya bahan baku yang terbuang, biaya tenaga kerja tetapi juga kepercayaan dari pembeli. Ketika pengiriman terlambat karena listrik mati kemarin, akibatnya industri akan terkena denda, dan yang lebih parah kepercayaan akan hilang sehingga order berikutnya akan sulit,” katanya. (K57)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
listrik padam, industri pertekstilan

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top