Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Gabah di Penggilingan Mulai Merangkak Naik

Ketua Umum Perpadi Soetarto Alimoeso menyebutkan kenaikan harga gabah kering panen mulai terjadi pada awal bulan ini.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  06:45 WIB
Harga Gabah di Penggilingan Mulai Merangkak Naik
Petani merontokkan padi hasil panen di areal persawahan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/10/2018). - JIBI/Rachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (perpadi) mencatat adanya kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat penggilingan seiring produksi yang memang tidak setinggi musim panen sebelumnya.

Ketua Umum Perpadi Soetarto Alimoeso menyebutkan kenaikan harga gabah kering panen mulai terjadi pada awal bulan ini. Dia menengarai, sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) kenaikan ini lantaran pasokan di masa panen gadu yang memang mulai berkurang jika dibandingkan dengan musim panen sebelumnya.

“Memang relatif naik. Sekarang sudah sekitar Rp5.000-an per kilogram [kg dari] sebelumnya sekitar Rp4.700 per kg,” ujarnya, Selasa (6/8/2019).

Terlepas dari kondisi produksi panen gadu yang memang tidak setinggi panen raya, berkurangnya pasokan ini juga disebakan oleh kemunduran masa tanam yang mempengaruhi masa panen dan El Nino.

Kendati demikian, menurutnya hingga saat ini aliran stok ke penggilingan-penggilingan padi, khususnya skala besar, masih bisa dikatakan normal.

Pasalnya, panen masih terus berlanjut di sejumlah daerah di Pulau Jawa yang memiliki sistem pengairan atau irigasi. Selain itu, suplai juga akan berlanjut dari panen di Sulawesi.

“Jadi, nanti pasti akan mengalir dari Sulawesi ke Pulau Jawa,” katanya.

Selain itu, tingginya stok beras milik Bulog yang memicu berkurangnya serapan oleh badan usaha milik negara tersebut, jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya, menyebabkan perebutan stok gabah antar penggilingan tidak terlalu sengit.

Namun, keadaan berbeda berpotensi dialami oleh penggilingan padi skala kecil. Menurut Sutarto, penggilingan skala kecil cenderung lebih terdampak lesunya serapan pasar.

“Kalau pasar lesu, dia juga cenderung relatif lesu,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemarau petani harga gabah
Editor : M. Taufikul Basari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top