Produksi Industri Mikro dan Kecil Melejit di Kuartal II/2019

Pertumbuhan produksi IMK pada kuartal II/2019 naik 5,52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedangkan produksi IBS tumbuh sebesar 3,62% (yoy).
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  10:07 WIB
Produksi Industri Mikro dan Kecil Melejit di Kuartal II/2019
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Industri manufaktur skala mikro dan kecil (IMK) dinilai tumbuh lebih tinggi dibandingkan segmen besar dan sedang (IBS) karena perbedaan karakteristik produksi.

Pertumbuhan produksi IMK pada kuartal II/2019 naik 5,52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedangkan produksi IBS tumbuh sebesar 3,62% (yoy).

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan pertumbuhan segmen IMK yang lebih tinggi dibandingkan IBS tersebut didorong karena IMK memproduksi untuk segera dijual dalam waktu dekat. Adapun, IBS biasanya mengejar pertumbuhan produksi di kuartal sebelum peak season, seperti puasa dan Lebaran, dalam rangka mempersiapkan stok.

“Perbedaan karakteristik ini menyebabkan pertumbuhan produksi IBS naik tinggi pada kuartal I/2019, tetapi melambat pada kuartal selanjutnya. IMK lebih tinggi pada kuartal II karena didukung faktor puasa dan Lebaran, juga penyelenggaraan pemilu serentak pada April 2019,” ujarnya Senin (5/8/2019).

Peningkatan produksi karena pemilu terlihat dari pertumbuhan IMK sektor percetakan dan media rekaman yang tumbuh 17,01% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, juga industri makanan yang tumbuh 9,25% (yoy), dan industri minuman yang tumbuh 8,66% (yoy).

Adapun, sebagai dukungan ke segmen IMK, Kemenperin sebagai pembina membantu pelaku industri untuk memperluas pasar melalui program E-Smart IKM, yang dimulai pada dua tahun lalu. "Dua tahun ini, kami fokus pengembangan IKM [industri kecil dan menengah]. Selain memperluas pasar, kami juga memberikan pelatihan teknis sehingga daya saing, produktivitas, dan kualitas SDM naik," katanya.

Kemenperin juga memberikan bantuan melalui program restrukturisasi mesin, yaitu fasilitas potongan sebesar 30% dari harga untuk mesin produk dalam negeri dan 25% dari harga untuk mesin produksi luar negeri.

Sementara itu, Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai kemitraan atau linkage antara IKM dan industri besar perlu diperkuat untuk meningkatkan kontribusi sektor ini terhadap ekonomi nasional.

Menurut Faisal, dengan linkage yang kuat, maka industri besar yang memiliki teknologi maju dengan akses besar, mampu mentransfer kemampuan dan membuka pintu pasar bagi IKM. Menurutnya, sektor industri yang telah memiliki linkage antara IKM dan industri besar yang cukup kuat antara lain industri makanan minuman dan industri otomotif.

Adapun untuk industri mikro, dia menyatakan pemerintah perlu meningkatkan kemudahan akses pembiayaan serta menyediakan berbagai macam pendampingan, seperti peningkatan kemampuan dalam mengemas produk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ikm

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top