Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investasi Asing Cara Paling Mudah untuk Mendorong Pertumbuhan

Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia (BKPM) Thomas Lembong memperkirakan bahwa peluang investasi asing di industri yang mendukung perkembangan ekonomi digital akan lebih dimudahkan selama masa kepemerintahan Presiden Jokowi yang kedua.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 05 Agustus 2019  |  12:15 WIB
Kepala BKPM Thomas Lembong mengikuti Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (17/7/2019). - ANTARA/Muhammad Adimaja
Kepala BKPM Thomas Lembong mengikuti Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (17/7/2019). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia (BKPM) Thomas Lembong memperkirakan bahwa peluang investasi asing di industri yang mendukung perkembangan ekonomi digital akan lebih dimudahkan selama masa kepemerintahan Presiden Jokowi yang kedua.

Hal ini dikemukakan dalam sebuah perbincangan podcast bersama dengan editor regional Oxford Business Group untuk Asia, Patrick Cooke. Thomas Lembong juga mengungkapkan bahwa Indonesia sedang mengalami perkembangan ekonomi digital yangsangat fantastis.

“E-commerce, pariwisata, dan lifestylemerupakan tiga mesin penggerak perekonomian baru di Indonesia yang telahmengambil alih peran komoditas minyak sawit dan mineral, dan ketiganya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan PDB tahunan di atas 5%. Sektor-sektor yang mendukung mesin pertumbuhan baru ini, seperti transportasi dan logistik, diperkirakan akan dibuka lebihluas untuk investasi asing, ”kata Lembong seperti dikutip dari siaran pers yang diterima dari Oxford Bussiness Group.

Perbincangan podcast ini dilakukan di kantor pusat BKPM, Jakarta saat Patick Cooke berkunjung ke ibu kota untuk bertemu dengan sejumlah mitra perusahaan dan melakukan penilaian terhadap iklim bisnis di dalam negeri seusai Pemilu 2019 dan terpilihnya kembali Joko Widodo sebagai kepala negara.

Presiden telah berjanji untuk mendorong perkembangan infrastruktur selama lima tahun ke depan dan berfokus pada pengembangan sumber daya manusia serta meningkatkan lingkungan usaha. Dalam kabinet Jokowi berikutnya, Presiden ingin memiliki orang-orang yang beliau sebut sebagai implementer (pelaksana) dan executors (eksekutor).

Selama masa jabatan pertamanya, Presiden Jokowi juga telah menerbitkan 16 paket kebijakan ekonomi. Paket kebijakan yang terbaru telah diterbitkan pada November 2018 lalu dan diharapkan akan membuka lebih banyak kesempatan bagi investor asing untuk masuk ke Indonesia. Lebih lanjut, sektor pendidikan perguruan tinggi akan dibuka lebih luas untuk investasi asing dengan harapan dapat mendukung misi pemerintah dalam mengatasi kurangnya SDM terampil di Indonesia.

“Peningkatan keterampilan, pengetahuan, dan paparan internasional dapat membuahkan begitu banyak manfaat bagi Indonesia. Hal ini sangat sederhana, namun penerapannya cukup menantang. Di sinilah Indonesia akan membutuhkan bantuan dari para pakar teknologi yang dapat membawa perubahan serta para generasi muda idealis yang akan menjadi PNS, gubernur, walikota, dan camat di masa depan untuk mencapai tujuan negara. ” ujar Thomas Lembong dalam perbincangan podcast ini.

Saat pertama kali terpilih sebagai kepala negara pada tahun 2014, Presiden Jokowi menargetkan kenaikan PDB tahunan sebesar 7%. Sayangnya, pertumbuhan perekonomian dalam negeri hanya mencapai sekitar 5% selama masa jabatan pertamanya. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kepada Dewan Perwakilan Rakyat bahwa potensi pertumbuhan PDB tidak akan melebihi 5,5% tanpa adanya reformasi struktural.

“Mempertahankan pertumbuhan PDB 5% merupakan perkara mudah, tetapi bagaimana kita bisa tingkatan hingga 7%? Masalah ini cukup sederhana, namun rumit pula. Membuka kesempatan investasi asing di lebih banyak sektor merupakan cara yang sangat mudah untuk mendorong reformasi ekonomi. Awalnya mungkin ada beberapa pihak yang cenderung proteksionis atau nasionalis, tetapi nantinya semua akan merasakan manfaat saat investasi asing membanjiri Indonesia. Ironisnya, pihak-pihak yang awalnya sangat proteksionis dan menolak investasi asing justru adalah pihak-pihak yang paling pertama kali menerima investasi asing dalam jumlah besar karena mereka dibanjiri oleh tawaran dari berbagai investor mancanegara, ” ujar Thomas Lembong.

Ke depannya, Thomas Lembong optimistis bahwa Indonesia akan mampu berkembang pesat menjadi salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia yang didukung oleh kemunculan berbagai wirausahawan berbakat, perusahaan kelas dunia, dan pemimpin inspiratif.

"Kabar baiknya, Indonesia memilki banyak potensi yang dapat dimanfaatkan dengan mudah... Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan unicorn seperti Tokopedia, Traveloka, Go-Jek, dan Grab telah membawa perubahan besar dalam industri ritel dan transportasi, tetapi saya meyakini bahwa ini hanyalah sebagian kecil dari potensi Indonesia sesungguhnya yang belum terealisasikan, ”kata Lembong.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

thomas lembong
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top