Bekraf Ungkap Alasan Sektor Industri Kreatif Harus Dipacu

Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), hingga 2017 kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB Nasional baru mencapai 7,28 persen.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  21:21 WIB
Bekraf Ungkap Alasan Sektor Industri Kreatif Harus Dipacu
Pengunjung memilih produk kerajinan saat pameran kerajinan dan seni "Gebyar Karya Jogja" di kawasan Nol Kilometer Yogyakarta, DI Yogyakarta, Kamis (11/7/2019). Pameran yang diikuti 70 pelaku usaha kerajinan dan seni Yogyakarta tersebut sebagai upaya mendorong ekonomi kreatif Indonesia. - Antara/Hendra Nurdiyansyah

Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan tinggi jumlah tenaga kerja industri kreatif di Indonesia belum diimbangi dengan kenaikan signifikan kontribusi sektor ini terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Nasional.

Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), hingga 2017 kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB Nasional baru mencapai 7,28 persen dengan tingkat pertumbuhan 5,06 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan PDB ekonomi kreatif masih di bawah PDB Nasional yang mencapai 5,07 persen pada 2017.

Menurut Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB Nasional masih harus digenjot. Alasannya, RPJMN 2015-2020 menargetkan kontribusi sektor ini terhadap PDB Nasional mencapai Rp1.100 triliun pada tahun depan.

“Sekarang [kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB] masih Rp952 triliun di tahun 2017. Tahun 2018 baru mau kelar dihitung BPS, perkiraan kami Rp1.001 triliun,” ujar Ricky di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (31/7/2019).

Dibandingkan negara lain, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB Nasional di Indonesia sebenarnya tidak bisa dibilang kecil. Angka 7,28 persen menempatkan kontribusi sektor industri kreatif di Indonesia di atas raihan negara lain seperti Kanada (4,63 persen), Singapura (5,90 persen), Filipina (5,24 persen), dan Rusia (6,12 persen).

Jumlah pekerja di sektor ini juga tidak bisa dibilang sedikit. Ricky mengungkap ada 17,7 juta pekerja ekonomi kreatif pada 2017 atau 14,61 persen dari jumlah tenaga kerja nasional.

Bekraf menganggap pekerja industri ekonomi kreatif harus didorong agar memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Alasannya, hingga saat ini hanya ada 11 persen dari total pelaku usaha industri kreatif yang sudah memiliki hak atas kekayaan intelektual.

“Sisanya 89 persen ini bisa saja mereka hanya pekerja [di industri ekonomi kreatif]. Nilai ekonominya enggak cukup besar bagi kita. Pada sektor ekonomi kreatif sebetulnya bukan cuma talenta yang dibutuhkan, tapi kemampuan dia untuk menggunakan talentanya berkontribusi signifikan,” ujarnya.

Data Bekraf menunjukkan ada 93,7 persen pekerja ekonomi kreatif di Indonesia yang termasuk kategori blue collar atau pekerja kasar, tenaga produksi, tenaga usaha jasa dan tenaga usaha penjualan. Sisanya, 6,2 persen pekerja di sektor ini termasuk kategori white collar atau tenaga profesional, teknisi, dan tenaga yang bersangkutan di bidangnya.

Ricky menyebut, pemerintah harus mendorong hadirnya ekosistem yang kompetitif untuk membuat anak-anak muda bertalenta di sektor ekonomi kreatif bisa berkontribusi lebih besar. Ekosistem itu bisa dihadirkan salah satunya dengan cara menghadirkan birokrasi yang sederhana agar anak-anak muda bertalenta tidak frustrasi kala hendak menggunakan kemampuannya.

“Kan percuma jika ada talenta kemudian mereka ke Bekraf atau Kemenpora tapi ada birokrasi berbelit,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi kreatif

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top