CORE : Sejumlah Faktor Bisa Membuat Pertumbuhan Ekonomi Hanya 5,1 Persen

Faktor pertama yang membuat pertumbuhan ekonomi diprediksi mendekati 5,1 persen karena tekanan global. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang direvisi menjadi 3,2 persen oleh IMF menjadi bukti besarnya masalah perekonomian dalam skala internasional.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  17:59 WIB
CORE : Sejumlah Faktor Bisa Membuat Pertumbuhan Ekonomi Hanya 5,1 Persen
Ilustrasi - Reuters/Johannes P. Christo

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah faktor membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi lebih dekat ke angka 5,1 persen tahun ini.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan faktor pertama yang membuat pertumbuhan ekonomi diprediksi mendekati 5,1 persen karena tekanan global. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang direvisi menjadi 3,2 persen oleh IMF menjadi bukti besarnya masalah perekonomian dalam skala internasional.

“Perlambatan ini terutama dipicu melambatnya pertumbuhan tiga ekonomi terbesar yaitu Amerika Serikat, Tiongkok dan Uni Eropa,” ujar Faisal dalam diskusi Konsolidasi Domestik Pasca Pemilu di Tengah Tekanan Global, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Perlambatan pertumbuhan ekonomi global berdampak ke Indonesia karena volume perdagangan antarnegara diprediksi melambat. Jika perdagangan melambat, berarti jual-beli komoditas berkurang.

Volume ekspor global diproyeksi hanya tumbuh 3,16 persen tahun ini, dan impor 3,59 persen. Padahal, di 2018 volume ekspor global tumbuh hingga 3,55 persen dan impor 4,12 persen.

Berkurangnya volume perdagangan pada akhirnya mengakibatkan turunnya harga komoditas, termasuk minyak sawit dan batu bara yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Berdasarkan data World Bank yang dikutip CORE, harga minyak sawit per Juni 2019 hanya US$552,19 per metrik ton atau turun dari harga rata-rata sebesar US$1.265 per metrik ton pada Januari 2018.

Penurunan harga juga dialami komoditas batu bara yang saat ini mencapai US$72,49 per metrik ton atau di bawah harga pada Juli 2018 sebesar US$119,57.

Prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1 persen juga dipengaruhi faktor dalam negeri. Faisal mengatakan, ada indikasi belanja rumah tangga akan melemah pascapemilu.

Selain itu, CORE memandang ada kontribusi dari terjadinya kontraksi investasi di sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi tahun ini. Sebagai catatan, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) baru saja merilis nilai investasi kuartal II/ 2019 mencapai Rp200,5 triliun atau naik 13,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2018.

Realisasi investasi periode Januari-Juni 2019 didominasi sektor infrastruktur seperti transportasi, telekomunikasi, pembangkit listrik dan konstruksi.

“Nilai ekspor-impor sampai Juni 2019 juga mengalami kontraksi, bahkan defisit neraca perdagangan Semester I/2019 lebih dari Semester I/2018 yakni mencapai US$2 miliar. Tapi kami memperkirakan defisit neraca perdagangan pada Semester II/2019 akan lebih lambat dibanding Semester II/2018,” ujarnya.

Meski kontraksi nilai ekspor-impor tahun ini diprediksi tidak separah 2018, CORE menyoroti terjadinya penurunan nilai ekspor sepanjang Semester I/2019. Sebagai catatan, pada Semester I/2018 nilai ekspor Indonesia mencapai US$88 miliar dan di periode yang sama tahun ini hanya US$80,2 miliar.

Terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi hanya mencapai 5,1 persen karena selama ini pemerintah belum efektif memanfaatkan peluang menarik investasi dari perang dagang antara AS dan China.

Menurut Faisal, kegagalan pemerintah terlihat dari porsi impor AS setelah perang dagang dengan China berlangsung tahun lalu.

Berdasarkan data Trademap yang diolah CORE, volume impor AS dari Indonesia hanya naik 0,2 persen dalam kurun Desember 2017-April 2019. Padahal, pada kurun waktu yang sama impor AS dari China berkurang 4,7 persen.

Berkurangnya share impor AS ke China berhasil dimanfaatkan optimal negara lain untuk menggenjot ekspor ke Negeri Paman Sam seperti Vietnam (naik 0,4 persen) dan Meksiko (naik 3,9 persen) pada periode sama.

“Ada juga peluang menangkap relokasi manufaktur dari China, tapi ini lebih banyak ditangkap negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam,” tutur Faisal. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top