Permohonan Tambahan Kuota Ekspor Freeport Indonesia Dievaluasi Agustus 2019

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan mulai mengevaluasi permohonan penambahan kuota ekspor konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia pada Agustus 2019. 
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  12:42 WIB
Permohonan Tambahan Kuota Ekspor Freeport Indonesia Dievaluasi Agustus 2019
Tumpukan konsentrat tembaga yang berada di kompleks smelter PT Smelting di Gresik, Jawa Timur. PT Freeport Indonesia menjadi pemasok utama konsentrat tembaga ke Smelting untuk dimurnikan menjadi tembaga katoda. - Bisnis/Lucky Leonard Leatemia

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan mulai mengevaluasi permohonan penambahan kuota ekspor konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia pada Agustus 2019. 

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak mengatakan, pihaknya masih menunggu pengajuan resmi dari Freeport Indonesia paling lambat 31 Juli 2019. Setelah itu, evaluasi baru bisa dilakukan. 

Yunus menjelaskan, pengajuan tambahan kuota produksi tersebut tidak menjadi masalah selama dilakukan sesuai dengan studi kelayakan perusahaan. Dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), ekspor Freeport Indonesia tahun ini dimungkinkan hingga sekitar 300.000 ton konsentrat tembaga. 

“Selama tidak melebihi produksi yang ada di studi kelayakan kan boleh-boleh saja,” katanya, Senin (29/7/2019). 

Sebelumnya, Chief Executive Officer Freeport-McMoRan Richard C. Adkerson mengatakan, selama semester I/2019, Freeport Indonesia masih menggunakan kuota ekspor yang disetujui sebelumnya, yakni pada 8 Maret 2019 sebanyak 198.282 ton konsentrat untuk satu tahun. Kuota tersebut menyusut drastis dari periode sebelumnya yang mencapai 1,25 juta ton. 

Dia mengungkapkan, Freeport Indonesia telah meminta persetujuan dari Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kuota ekspor tersebut lantaran volume produksi yang diperkirakan lebih tinggi dari rencana awal. 

Terkait produksi, Freeport Indonesia akan menjadikan produksi pada Grasberg Block Cave yang merupakan salah satu tambang bawah tanah di Grasberg sebagai kontributor terbesar pascaperalihan dari tambang terbuka. 

Adapun, hingga Semester I/2019, produksi dari Grasberg Block Cave mencapai 6.200 metrik ton (MT) per hari atau naik 58,9% dari dari 3.900 MT per hari pada semester I/2018. Selain Grasberg Block Cave, blok tambang bawah tanah lainnya adalah Deep Mill Level Zone (DMLZ), Deep Ore Zone, dan Big Gossan dengan masing-masing produksi selama semester I/2019 sebanyak 7,200 MT per hari, 25,700 MT per hari, dan 5,500 MT per hari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Freeport, komoditas tembaga

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top