Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Transisi Blok Rokan Belum Berjalan, Pertamina Ambisius Kelola Blok Corridor

PT Pertamina (Persero) mengklaim siap menjadi operator Blok Corridor pada 2026, setelah pemerintah menyetujui kenaikan hak partisipasi 30 persen di wilayah kerja gas tersebut.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  20:06 WIB
Ilustrasi - Bisnis
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) mengklaim siap menjadi operator Blok Corridor pada 2026 setelah pemerintah menyetujui kenaikan hak partisipasi hingga 30 persen di wilayah kerja gas tersebut.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menyatakan Pertamina melalui anak usahanya Pertamina Hulu Energi Corridor telah mendapat hak partisipasi (participating interest/PI) sebesar 30 persen yang sebelumnya hanya 10 persen. Hak partisipasi tersebut akan dimulai setelah 2023.

“Kami percaya pemerintah telah melakukan pertimbangan mendalam yang baik bagi semua pihak dan Pertamina segera mempersiapkan berbagai strategi dan langkah untuk menjadi operator Blok Corridor pada 2026 hingga kontrak selesai pada 2043,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (29/7/2019).

Sebelumnya, sudah ada 11 blok migas terminasi lainnya yang dikelola Pertamina. Pada 3 tahun pertama, operatornya adalah ConocoPhilips dan selama 17 tahun berikutnya menjadi hak Pertamina untuk mengelola Blok Corridor.

Sebagai BUMN, Pertamina juga mendukung keterlibatan BUMD yang akan mendapat penawaran PI 10 persen. Blok yang terletak di Banyuasin, Sumatra Selatan, ini tercatat memiliki cadangan gas nomor tiga terbesar di Indonesia yang berkontribusi hingga 17 persen dari total produksi gas nasional.

“Kami optimistis mengelola Blok Corridor. Ini sangat strategis karena nantinya akan terintegrasi dengan Blok Rokan yang dikelola Pertamina pada 2021 dan Kilang Dumai di Riau,” tambahnya.

Adapun perkiraan nilai investasi dari pelaksanaan komitmen kerja pasti (KKP) lima tahun pertama senilai US$250 juta dan bonus tanda tangan (signature bonus) senilai US$250 juta.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan keputusan pengelolaan blok Corridor pascakontrak habis pada 2023 mengutamakan transisi yang baik sehingga terhindar dari penurunan produksi.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan pengalaman operasi migas menjadi pertimbangan agar penurunan produksi dan lifting yang terjadi saat ini, tidak terjadi di Blok Corridor.

Menurutnya, penawaran perpanjangan pengelolaan terbaik melalui konsorsium, meski sebelumnya pemerintah telah menawarkan kontrak untuk mengajukan proposal masing-masing.

"Namun demikian, pemerintah beri perhatian kepada Pertamina. Naik tiga kali lipat hak partisipasi mereka. Diharapkan sesudah operasi perpanjangan maka Pertamina bisa melaksanakan alih kelola operatorship," tuturnya, di Kantor Kementerian ESDM, Senin (29/7/2019).

Persetujuan perpanjangan Kontrak Kerja Sama Wilayah Kerja Corridor telah ditetapkan dengan pemegang hak partisipasi 46 persen untuk ConocoPhillips (Grissik) Ltd dan menjadi sebagai operator hingga 2026.

Selanjutnya, Talisman Corridor Ltd. (Repsol) mendapatkan PI sebesar 24 persen, dan PT Pertamina Hulu Energi Corridor sebesar 30 persen. Hak partisipasi tersebut termasuk 10 persen yang akan ditawarkan kepada badan usaha milik daerah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina blok migas
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top