Kontraktor Diimbau Gunakan Semen Ramah Lingkungan

Proyek infrastruktur menyerap sekitar 25% dari total konsumsi semen per tahunnya.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  18:26 WIB
Kontraktor Diimbau Gunakan Semen Ramah Lingkungan
Pekerja memindahkan semen Tonasa (Semen Indonesia Group) ke atas kapal di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (10/6). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menyarankan agar para kontraktor infrastruktur mengganti semen ordinary portland cement (OPC) menjadi portland compostie cement (PCC) dan portland pozzoland cement (PPC) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dalam proses produksi.

ASI menyatakan industri semen telah memproduksi setidaknya 45,9 juta ton CO2 dalam proses produksi semen pada tahun lalu.

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, pencampuran bahan baku semen dengan menggunakan aditif seperti limestone, pozzolan, dan fly ash, dapat menurunkan rasio clinker. Adapun, PCC dan PPC mencampurkan sebagian bahan aditif tersebut saat proses produksi.

Ketua Umum ASI Widodo Santoso mengatakan penggunaan PCC dan PPC dalam proyek infrastruktur dapat mengurangi GRK hingga 3,5 juta ton per tahun. Selain itu, biaya proyek pun akan semakin kompetitif lantaran harga PCC dan PPC yang lebih murah karena rasio clinker yang lebih sedikit.

“Harapan kami, paling tidak [emisi GRK] turunnya 10%-30%. Kesimpulannya dengan adanya penggunaan semen ramah lingkungan, kami bisa menghemat lagi 3,4 juta ton gas rumah kaca,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (25/7/2019).

Widodo menuturkan proyek infrastruktur menyerap sekitar 25% dari total konsumsi semen per tahunnya. Dia menyatakan tujuan dari imbauan ini bukan untuk meningkatkan komposisi serapan semen dari sektor infrastruktur, melainkan murni untuk mendukung target pemerintah pada 2030.

Pada 2012 Pemerintah Indonesia berpartisipasi dalam perjanjian Kyoto yang menyatakan akan mengurangi emisi GRK hingga 20% dari data 2010. Pemerintah kembali berjanji di ajang kesepakatan Paris 2015 untuk menurunkan 29% emisi GRK pada 2030 dengan basis realisasi emisi 2010.

Widodo menuturkan pada awal tahun asosiasi menargetkan konsumsi semen dapat tumbuh 3%-4% tahun ini. Namun, menurutnya, hal tersebut sulit dipenuhi mengingat konsumsi semen pada paruh pertama yang tumbuh defisit. Alhasil, Widodo memproyeksikan pertumbuhan konsumsi pada akhir tahun ini tidak akan lebih dari 2% secara tahunan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
semen

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top