Pasokan Tidak Memadai, Sektor Industri Kesulitan Optimalkan Energi Terbarukan

Clean Energy Investment Accelerator (CEIA), koalisi publik swasta yang menginisiasi pengembangan energi bersih, menilai industri di Indonesia kesulitan memanfaatkan energi terbarukan lantaran pasokan yang tidak memadai.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 23 Juli 2019  |  16:20 WIB
Pasokan Tidak Memadai, Sektor Industri Kesulitan Optimalkan Energi Terbarukan
Presiden Joko Widodo mengamati turbin kincir angin usai meresmikan Pembangkit Listirk Tenaga Bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Abriawan Abhe

Bisnis.com, JAKARTA--Clean Energy Investment Accelerator (CEIA), koalisi publik swasta yang menginisiasi pengembangan energi bersih, menilai industri di Indonesia kesulitan memanfaatkan energi terbarukan lantaran pasokan yang tidak memadai.

Perwakilan Allotrope Partners untuk CEIA Indonesia Gina Lisdiani mengatakan sektor industri telah aktif mempromosikan energi terbarukan sebagai solusi masa depan. Dari total 14 perusahaan yang telah berpartisipasi aktif di CEIA Indonesia, beberapa di antaranya memiliki target untuk menggunakan setidaknya 50 persen energi terbarukan pada tahun depan.

Setidaknya sembilan dari 14 perusahaan yang berkomitmen terhadap pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia berkomitmen untuk untuk memenuhi 100 persen kebutuhan listrik dari energi terbarukan pada 2020 hingga 2050. 

“Bahkan ada yang menargetkan 100 persen penggunaan energi terbarukan pada 2020. Hingga saat ini, setengah dari targetnya itu masih belum tercapai sehingga bukan tidak mungkin perusahaan ini akan mengalihkan fokus investasinya ke negara lain yang iklim pemenuhan energi terbarukannya lebih mudah dan mendukung," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (23/7/2019). 

Menurut Gina, kebutuhan dan komitmen yang sudah ada belum bisa dipenuhi lantaran pasokan energi bersih yang tidak memadai. Persoalan pasokan ini terkait dengan kebijakan pemerintah yang belum mendorong transaksi energi terbarukan dan belum memberi ruang untuk lebih banyak investasi pembangkit energi terbarukan.

Perwakilan World Resources Institute (WRI) Indonesia untuk CEIA Almo Pradana mengungkapkan CEIA Indonesia mengagregasi permintaan energi terbarukan dari sektor komersial dan industri dan menyatukannya dalam sebuah wadah untuk meningkatkan urgensi kebutuhan tersebut, serta membantu perusahaan mengatasi hambatan yang ada.

“Masukan-masukan dan hambatan yang dialami sektor ini kemudian dicarikan jalan keluarnya, antara lain dengan cara memfasilitasi dialog, penyampaian rekomendasi kebijakan, dan opsi pengadaan dengan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, serta dengan PLN sebagai pemasok listrik,” jelasnya.

Pemenuhan kebutuhan energi terbarukan di sektor komersial dan industri dapat membantu pemerintah mencapai target nasional 23 persen bauran energi terbarukan pada 2025, serta mendorong investasi swasta. Apalagi, potensi energi terbarukan Indonesia pada saat ini adalah yang paling menjanjikan di Asia Tenggara dengan total potensi energi panas bumi, hidro, matahari, angin, dan gelombang laut mencapai 410.554 megawatt (MW). 

Jumlah tersebut enam kali lebih banyak dari kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik di Indonesia pada tahun lalu. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pembangkit listrik, energi terbarukan

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top