Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Impor BBM Mustahil Tertekan

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan mustahil impor BBM terpangkas kalau kapasitas kilang milik PT Pertamina (Persero) belum ditingkatkan.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 12 Juli 2019  |  05:35 WIB
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) ke truk tangki di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/12/2018). - ANTARA/Didik Suhartono
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) ke truk tangki di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/12/2018). - ANTARA/Didik Suhartono

Bisnis.com, JAKARTA —Reforminer Institute memperkirakan Impor produk bahan bakar minyak (BBM) diproyeksi terus meningkat hingga kapasitas kilang nasional ditingkatkan.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan mustahil impor BBM terpangkas kalau kapasitas kilang milik PT Pertamina (Persero) belum ditingkatkan. Paling tidak, pertumbuhan impor produk BBM terjadi hingga 2024, sampai rencana pengembangan dan pembangunan kilang Pertamina terealisasi.

“Kapasitas kilang kita terbatas, di sisi lain kebutuhan produk yang naik. Sebenarnya, pertumbuhan permintaan kombinasi banyak faktor, yang utama adalah pertumbuhan ekonomi. Elastisitas pertumbuhan BBM setidaknya 1 persen - 2 persen per tahun,” katanya, saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (11/7/2019).

Merujuk profil impor Pertamina, penurunan impor crude tidak dapat terus terjadi. Pasalnya, penyerapan crude oil dari KKKS yang diolah langsung di kilang nasional memiliki keterbatasan. Melihat persoalan defisit neraca migas, Komaidi pesimistis ada solusi instan dalam jangka pendek.

Dia mengatakan kebijakan energi sulit diterapkan dalam jangka pendek, meski upaya jangka pendek sudah coba, seperti penerapan perluasan B20.

“Tapi juga kalau nanti harga sawitnya naik juga tidak efektif. Simulasi kami, kalau harga sawit itu maksimal 3 kali harga lipat harga Brent masih layak. Akan tetapi, kalau 4 kali di atas Brent lebih baik sawit itu diekspor mentah,” katanya.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Dia menambahkan sebenarnya sulit melarang Pertamina untuk menekan aktivitas impornya. Apalagi dalam aktivitas impor, perseoran mendapatkan keuntungan.

“Kalau mereka diminta menurunkan impornya agak susah, dalam arti menurunkan impor itu bukan usaha Pertamina, tapi  urusan negara,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BBM
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top