Mal di Jakarta Sudah Jenuh, Konsep Harus Berubah

Untuk di luar Jawa, pasarnya masih dalam kondisi baik dan pembangunan masih bisa terus dilakukan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 12 Juli 2019  |  10:18 WIB
Mal di Jakarta Sudah Jenuh, Konsep Harus Berubah
Anak-anak bermain di wahana musim dingin Snow Storm yang dihadirkan untuk merayakan Lebaran dan musim libur sekolah 2019 oleh Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Meskipun sudah banyak pusat belanja berdiri di Jakarta dan sekitarnya, nyatanya keberadaannya masih dibutuhkan oleh masyarakat untuk memenuhi gaya hidup.

Hal itu yang membuat pengembang tak patah semangat mengembangkan pusat belanja.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) A. Stefanus Ridwan mengatakan bahwa pembangunan pusat perbelanjaan atau mal masih tetap dibutuhkan, bahkan di Jakarta yang sudah punya banyak. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah seberapa banyak mal yang harus dibangun? Bagaimana supaya bisa tetap berdiri?

“Sekarang di Jakarta mal sudah tidak bisa berdiri sendiri, enggak akan ada yang mau bangun karena enggak ada yang datang. Jadi, pasti ada apartemennya, hotelnya, jadi mixed-use sebab break even point-nya panjang, bisa sampai 12 tahun, apalagi yang banyak tenant [penyewa] makanannya, bisa sampai 15 tahun,” ungkapnya.

Selain itu, ada Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perpasaran yang mengatur bahwa pusat perbelanjaan harus menyediakan lokasi usaha sebanyak 20% dari seluruh bangunan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah.

“Mal itu sudah tidak mungkinlah dibangun di Jakarta, syaratnya terlalu banyak, pajak juga banyak, ada kewajiban Perda Nomor 2 itu lagi. Makanya, kami juga terus melakukan negosiasi aturan itu supaya bisa terus berkembang, kalau enggak ya, mati semua,” lanjutnya.

Selanjutnya, dengan banyaknya pusat perbelanjaan, khususnya di Jabodetabek, justru, menurut Ridwan, bisa mendukung persaingan pusat belanja.

“Di Bekasi, misalnya, kan sudah berjejer tuh, bisa bandingkan dengan Singapura, lihat Orchard Road, itu banyak mal masih ramai-ramai aja, jadi pusat kunjungan orang. Jadi, semakin banyak yang ngumpul harusnya bisa makin kuat,” sambungnya.

Sama juga dengan di Kelapa Gading, kata Ridwan, ada Artha Gading, Mal Kelapa Gading, dan Mall Of Indonesia, lokasi itu menjadi one stop shopping.

“Yang penting kita bedain jenis dagangannya. Nah, gunanya asosiasi itu, untuk mengaturlah kelasnya, jenis dagangannya,” kata Ridwan.

Untuk di luar Jawa, pasarnya masih dalam kondisi baik dan pembangunan masih bisa terus dilakukan. Pasalnya, tuntutan persyaratan pengembangan pusat belanja di luar Jawa tidak sebanyak di kota-kota besar di Jawa.

“Intinya pengembangan mal masih positif trennya, selama memunculkan experience, enggak cuma jual baju-baju aja, makanan-makanan aja. Kebutuhan akan mal pasti masih akan tetap ada.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mal, pusat perbelanjaan, appbi

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top