Rhenald Kasali : Tak Perlu Modal Besar untuk Buat Dampak Besar

Rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas hasil evaluasi laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. turut ditanggapi oleh Guru Besar Ilmu Manajamen Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali.
Rhenad Kasali
Rhenad Kasali - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  09:27 WIB
Rhenald Kasali : Tak Perlu Modal Besar untuk Buat Dampak Besar
Rhenald Kasali. - rhenaldkasali.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Beberapa hari lalu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyampaikan rekomendasi atas hasil evaluasi laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. tahun 2018, terutama yang terkait dengan PT Mahata Aero Technology.

Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah pembatalan kerja sama antara PT Citilink (CI), anak usaha Garuda, dengan Mahata.

Hal ini turut mendapat respons dari Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia (UI). Dalam opininya yang beredar di aplikasi pesan WhatsApp, dia menanggapinya dengan senyum.

"Kalau Garuda atau BPK tidak mau, jual saja ke Gojek, pasti diambil," tulisnya.

Berikut opini Rhenald yang dikutip Bisnis, Kamis (11/7/2019):

Gojek dan hampir semua super apps lainnya termasuk Google, Grab, Traveloka, Tokopedia sedang cash rich. Di sana berkumpul orang-orang progresif yang tahu bagaimana memanjakan penumpang dan tahu uangnya ada di mana. Mereka tidak se-rigid orang-orang lama yang sok tahu.

Gojek membutuhkan 4 tahun untuk mendapatkan lebih dari 100 juta partisipan yang mengunduh apps-nya dan menjadikan dirinya super apps. Sedangkan gabungan Garuda-Citilink dan Sriwijaya mempunyai 65 juta penumpang aktif.

Kalau digabung dengan Angkasa Pura 1 dan 2, tambah 100 juta lagi. Cari uangnya jangan konvensional dari tiket, tetapi eksplor saja dari data.

Berikut catatan Rhenald yang beredar di berbagai grup WhatsApp:

1. Paling sulit memang meyakinkan bisnis cara baru pada orang-orang tua yang pernah sukses dengan cara lama. Padahal, cara lama sudah obsolete digerus teknologi dan data. Tetapi, mereka selalu merasa paling benar.

2. Contohnya di Garuda Indonesia itu. Kalau diberitahu, mereka cepat sekali naik pitam dan ingin cepat-cepat bilang fraud lah, salah lah, tidak boleh, batalkan, tidak ada duit lah, modalnya terlalu kecil, dan seterusnya.

3. Menurut saya, kalau mereka tidak mau, jual saja ke super apps seperti Google, Gojek, atau Traveloka. Pasti dibayar secepat kilat. Daripada main batalkan dan merugikan keuangan negara. Anak-anak muda itulah yang tahu bagaimana cara menciptakan value pada airlines gemuk pelat merah milik BUMN itu. Caranya riil, bukan digoreng-goreng sahamnya.

4. Ini era MO, pakai tagar menjadi #MO. Artinya, orang pakai tagar dengan tujuan mobilisasi dan orkestrasi. Sebab, di era baru, #MO membuat bisnis harus hidup dari cara mobilisasi dan orkestrasi ekosistem pakai data.

5. #MO itu peradaban entrepreneurship anak-anak muda yang berbasis teknologi. Untuk membuat dampak besar dan ekonomi heboh tak perlu modal besar karena peradaban ini didukung oleh 6 pilar: Artificial Intelligence, Big Data, Super Apps, Broadband Network, Internet of Things, dan Cloud Computing.

6. Dapat duitnya dengan mengorkestrasi ekosistem, bukan menguasai aset yang besar seorang diri. Kata kuncinya kolaborasi. Maka asetnya light. Ini berbeda dengan bisnis kakek-kakek yang heavy asset dan tampak gede di neraca dan laporan pendapatannya disetel akunting konvensional.

7. Ini pula yang menjadi biang keributan akuntansi. Makanya di New York Stock Exchange, orang-orang lagi ramai membincangkan buku guru besar akuntansi senior dari NYU Stern, Baruch Lev: The End of Accounting.

8. Masalahnya, standar akuntansi yang kita kenal belum mampu meng-capture “nilai” yang diciptakan oleh startup yang disebut sebagai “network effect value.” Ini persis sama dengan ramainya perdebatan tentang “intangible” yang didebatkan boleh atau tidak dihitung dalam perolehan aset 30 tahun lalu.

9. Jadi, perusahaan-perusahaan lama itu tak ada network effect value-nya karena produknya stand-alone. Ini persis kayak kita ngebandingin Nokia dengan iPhone atau Adidas dengan Nike, atau ITB dengan Harvard/TEDx.

10. Yang satu cuma jual produk atau jasa tok. Nokia dapat duit dari gadget belaka. Dia standalone. iPhone dapat duit dari gadget plus dari App store yang ada jejaring dan data capture-nya. Begitulah cara kerja startup.

11. Adidas cuma jual sepatu. Nike jual sepatu plus fitness wearables yang memberikan data dan business opportunity baru dari data. Menjadikan sepatu bagian dari bisnis wellness dan sekaligus membongkar cara bisnis industri farmasi.

12. ITB dan UI hanya kasih kuliah untuk mahasiswa yang terdaftar dan diterima. Harvard dan TEDx kasih bahan-bahan gratis yang mendatangkan data dan bisnis-bisnis baru.

13. Masih banyak lagi, mulai dari NASA, GE, Kalbe, Halodoc, Prudential, sampai bisnis-bisnis anak muda seperti Wahyoo, Reblood, dan Cari Ustadz. Semua hidup dan menghidupkan ekosistem. Bedanya, mereka tidak cengeng atau saling menyalahkan.

14. Makanya di era #MO ini, kalau tidak mau pusing, jual sajalah ke super apps, Dijamin tiket pesawat jadi lebih terjangkau dan penumpang happy dapat layanan data di pesawat. Sudah dulu ya. Cheers, #MO

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garuda indonesia

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup