Asosiasi Petani Kelapa Sawit Dukung Pemberlakuan Pungutan Ekspor CPO

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia atau Apkasindo mendukung diberlakukannya pungutan ekspor terhadap produk minyak kelapa sawit mentah atau CPO.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  18:24 WIB
Asosiasi Petani Kelapa Sawit Dukung Pemberlakuan Pungutan Ekspor CPO
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA -- Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia atau Apkasindo mendukung diberlakukannya pungutan ekspor terhadap produk minyak kelapa sawit mentah atau CPO.

Ketua Umum Apkasindo Gulat Manurung menyebutkan diberlakukannya pungutan ekspor Rp0 sejauh ini tidak berdampak banyak terhadap pergerakan harga tandan buah segar (TBS) di level petani.

 “Faktanya, November 2018 sampai hari ini turun terus dari Rp2.100 pas pertengahan tahun lalu. Begitu dicabut potongan ekspor, naik sedikit dan turun lagi sampai sekarang. Artinya, enggak pengaruh,” kata Gulat, Selasa (9/7/2019).

Dia meyakini pemberlakuan kembali pungutan ekspor bisa membantu memperkuat harga sawit dalam jangka panjang. Pasalnya, menurut Gulat, tujuan pemberlakuan pungutan untuk ekspor CPO tersebut adalah untuk mendukung berkembangnya industri tengah dan hilir sawit di dalam negeri atau dengan kata lain dilakukan diversifikasi produk.

Kendati demikian, dia menilai perkembangan industri tengah dan hilir sawit memang belum seperti yang diharapkan.

Padahal, diversifikasi tersebut berpotensi meningkatkan serapan dalam negeri, sehingga harga di tingkat petani bisa kembali meningkat. Hal itu juga bisa membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasar pasar asing.

“Politisnya di situ.  Pungutan itu memaksa mereka agar tidak mengekspor bahan mentah, tapi bahan jadi. Bahan jadi yang diekspor pungutannya sedikit,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan salah satu upaya peningkatan serapan dalam negeri yang saat ini tengah diupayakan oleh kalangan petani sawit adalah pengembangan pabrik-pabrik CPO dan pabrik minyak goreng mini berbasis petani.

Saat ini, sedikitnya ada tiga unit pabrik minyak goreng mini yang tengah diusahakan para petani sawit di tiga daerah berbeda. Masing-masing pabrik tersebut bisa menghasilkan 400-600 kilogram minyak goreng.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cpo, kelapa sawit

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top