Bulog Dorong Jumlah Gerai Rumah Pangan Kita

Perum Bulog berencana terus menambah jumlah outlet rumah pangan kita (RPK) sebagai salah satu jalur distribusi produk pangan.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 28 Juni 2019  |  18:45 WIB
Bulog Dorong Jumlah Gerai Rumah Pangan Kita
Pekerja mengangkut stok beras Bulog untuk didistribusikan ke pasar-pasar di Gudang Sub-Divre Bulog Serang, di Serang, Banten, Jumat (10/5/2019). - ANTARA/Asep Fathulrahman

Bisnis.com, JAKARTA - Perum Bulog berencana terus menambah jumlah outlet rumah pangan kita (RPK) sebagai salah satu jalur distribusi produk pangan.

Sekretaris Perusahaan Bulog Awaludin Iqbal menyebutkan tahun ini perusahaan berencana untuk memiliki 80.000 outlet RPK bekerja sama dengan masyarakat. Adapun saat ini, Bulog memiliki sekitar 60.000 outlet RPK.

"Kalau target terus jalan sampai dengan 80.000 outlet untuk total target tahun ini," kata Awaludin, Jumat (28/6/2019).

Di samping itu, Bulog juga melakukan distribusi melalui mitra-mitra lainnya seperti pedagang di pasar.

Perbanyakan outlet RPK ini merupakan salah satu upaya Bulog untuk menjaga perputaran stok demi menghindari penumpukan.

Seperti diketahui, saat ini stok beras di gudang-gudang Bulog mencapai sekitar 2,2 juta ton. Untuk memperlancar penyaluran, pemerintah dan pihak terkait dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) beberapa waktu lalu memutuskan untuk melanjutkan skema ketersediaan pasokan dan stabilitas harga (KPSH) hingga akhir Desember nanti.

Hal ini juga diklaim sekaligus mengantisipasi potensi terjadinya lonjakan harga di akhir tahun.

Adapun target penyaluran melalui KPSH atau operasi pasar hingga akhir tahun sebesar 1,48 juta ton. Sementara itu, rata-rata serapan harian pasar melalui operasi pasar saat ini sekitar 3.000-4.000 ton yang menurut Iqbal berpotensi meningkat hingga 15.000 ton per hari, khususnya usai musim panen atau paceklik.

"Karena sekarang kan jarak antara panen  tidak terlalu jauh. April masih panen. Mei masih ada sedikit sehingga Juni stok di masyarakat ada. Tetapi di dalam tahun- tahun sebelumnya, biasanya terjadi kenaikan harga itu kan pada akhir tahun," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bulog, produksi beras

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top