Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kemarau Tahun Ini Cenderung Normal, BMKG Imbau Tetap Waspada

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengharapkan masyarakat dapat tetap waspada dalam menghadapi musim kemarau yang mulai berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia. Berdasarkan pantauan hari tanpa hujan (HTH) sejauh ini, sejumlah wilayah bahkan terpantau mengalami kekeringan ekstrem lantaran tak menerima hujan lebih dari 60 hari berturut-turut.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 28 Juni 2019  |  18:10 WIB
Warga mengambil air dari sumur sawah di Dusun Ngasem, Monggot, Gundih, Grobogan, Jawa Tengah, Senin (3/9/2018). - ANTARA/Yusuf Nugroho
Warga mengambil air dari sumur sawah di Dusun Ngasem, Monggot, Gundih, Grobogan, Jawa Tengah, Senin (3/9/2018). - ANTARA/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengharapkan masyarakat dapat tetap waspada dalam menghadapi musim kemarau yang mulai berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia. Berdasarkan pantauan hari tanpa hujan (HTH) sejauh ini, sejumlah wilayah bahkan terpantau mengalami kekeringan ekstrem lantaran tak menerima hujan lebih dari 60 hari berturut-turut.

Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hary Tirto Djatmiko menyatakan awal musim kemarau telah terjadi di 35% wilayah Indonesia. Sementara 65% lainnya masih mengalami hujan.

Adapun 35% wilayah tersebut, jelas Hary, meliputi pesisir utara dan timur Aceh, bagian utara Sumatera Utara, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Tengah bagian selatan dan Kalimantan Selatan bagian selatan, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, sebagian kecil Sulawesi Tengah bagian pesisir utara, sebagian Maluku, dan Papua bagian selatan.

"Hasil pemantauan HTH berturut-turut menunjukkan beberapa wilayah sudah memasuki kemarau ekstrim atau mengalami kekeringan, artinya hujan tidak turun 60 hari berturut-turut," kata Hary pada Bisnis, Senin(24/6/2019).

Wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan ekstrim tersebut tersebar di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Berdasarkan catatan BMKG sejumlah kawasan di Nusa Tenggara Timur bahkan telah lebih dari 70 hari tak diguyur hujan, yakni Wairiang di Kabupaten Lemabata selama 85 hari, Rambangaru di Sumba Timur selama 96 hari, dan Oepoi di Kupang selama 80 hari.

"Kalau melihat dari sisi ini, tentunya perlu kewaspadaan terkait tingkat ketersediaan air tanah dan air bersih," sambung Hary.

Hary pun menjelaskan bahwa kemarau tahun ini cenderung normal dengan kondisi yang lebih kering pada periode puncak kemarau. Hal ini tak lepas dari pengaruh El Nino tahun ini yang relatif lemah dan tak berdampak signifikan pada musim kemarau di Indonesia.

Berkaitan dengan produksi komoditas pangan dan perkebunan di wilayah yang mulai memasuki masa kemarau, Hary mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian di daerah untuk melakukan diseminasi informasi. Perkembangan cuaca pun disampaikan setiap dasarian (10 hari) dan dua kali setahun perkiraan iklim juga dirilis.

"Perkiraan cuaca setiap 10 hari selalu kami sampaikan. Perkiraan kemarau dan musim hujan juga dirilis dua kali setahun, pada Maret dan September agar petani bisa menyusun rencana tanam, menentukan varietas apa yang cocok, dan mengantisipasi ketersediaan air," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertanian kemarau
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top