Dekarindo : Arahan Presiden Tak Dilaksanakan, Serapan Karet Rendah

Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) menyebutkan bahwa serapan karet dapat melonjak hingga 59,79% atau menembus 1 juta ton jika pemerintah daerah mengikuti arahan Presiden. Nyatanya, hingga tahun lalu serapan produksi karet baru mencapai 625.820 ton atau 17,04%.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  19:25 WIB
Dekarindo : Arahan Presiden Tak Dilaksanakan, Serapan Karet Rendah
Petani mengumpulkan getah karet hasil panen di perkebunan Bathin II Babeko, Bungo, Jambi, Sabtu (30/3/2019). Harga jual getah karet di tingkat petani setempat berangsur naik dari Rp8.000 per kilogram pada minggu lalu menjadi Rp8.200 per kilogram per hari ini. ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA -Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) menyebutkan bahwa serapan karet dapat melonjak hingga 59,79% atau menembus 1 juta ton jika pemerintah daerah mengikuti arahan Presiden. Nyatanya, hingga tahun lalu serapan produksi karet baru mencapai 625.820 ton atau 17,04%.

Ketua Umum Dekarindo Azis Pane mengatakan bahwa Presiden telah mengarahkan agar pemerintah daerah menjadikan karet sebagai bahan baku pembuatan jalan provinsi maupun jalan daerah dan sebagai bahan baku fondasi bangunan anti gempa

“Jalan tidak [arahan tersebut]? Atau hanya lip service?” ujar Azis, Selasa (25/6/2019).

Azis menuturkan, serapan karet domestik dapat menembus 27,23% pada tahun ini jika inisiasi aspal karet etul-betul dilakukan pada tahun ini. Namun, Azis mengaku belum melihat pelaksanaan arahan tersebut direalisasikan.

Menurutnya, penggunaan karet sebagai bagian dari aspal memang sudah dimulai pada tahun ini, khususnya pada kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Seperti diketahui, tahap pertama produksi karet aspal akan dikonsentrasikan di daerah-daerah sentra produksi seperti Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Selain penggunaan karet dalam pembuatan aspal, Azis menyampaikan serapan karet juga dapat meningkat jika pembangunan fasilitas olah raga menggunakan karet sebagai bahan baku pembuatan lapangan. Menurutnya, hal tersebut akan lebih sustainable mengingat jangka turnover fasilitas olah raga hanya mencapai 2—3 tahun, sedangkan jangka turnover dapat mencapai 20—30 tahun.

“Ayo cari barang atau komoditas industri yang penggunaannya liquid, contohnya lapangna bola dari karet. Yang bikin [lapangan bola dari karet] Cuma dua [yakni] Thailand dan China. Kenapa bukan Indnesia?”

Secara komposisi, tiga sektor industri yang menyerap karet alam terbesar adalah industri ban, industri alas kaki, dan industri vulkanisir. Pada akhir tahun lalu, asosiasi mencatat industri ban menyerap 267.235 ton karet atau naik 5,58% dari 253.110 pada realisasi tahun sebelumnya.

Dari serapan karet tersebut, industri ban memproduksi sebanyak 76,4 juta unit ban kendaraan roda empat dan 61,9 juta unit ban kendaraan roda dua. Adapun serapan industri ban di pasar mencapai 90,34% atau 127,3 juta unit.

Azis menyampaikan serapan industri ban di pasaran pada tahun ini akan stabil di level 90%. Pasalnya, menurutnya, pasar global industri ban akan sama dengan tahun lalu mengingat produk ban Vietnam akan difokuskan untuk memenuhi permintaan kendaraan lokal vietnam.

“Sehingga lawan di pasar ekspor akan berkurang. Kedua, perlambatan perekonomian China dapat dimanfaatkan oleh industri ban domestik,” paparnya.

Sementara itu, Azis mengatakan industri vulkanisir khususnya ban, berpotensi untuk berkembang memenuhi permintaan di dalam negeri. Pasalnya, menurutnya, industri vulkanisir dapat berkembang mengingat harganya yang lebih kompetitif dibandingkan ban baru.

Pada akhir tahun lalu, serapan karet industri vulkanisir naik tipis 1,01% menjadi 159,2 juta ton karet alam. Adapun, industri vulkanisir berkontribusi sebesar 58,51% atau 93,1 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri karet

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup