Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham di Emerging Market Underperform

Para manajer keuangan semakin dibuat pusing dengan kondisi pasar akhir-akhir ini, di tengah kesulitan tersebut saham emerging market (EM) tercatat underperform namun menjadi semakin mahal.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 13 Juni 2019  |  18:52 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Para manajer keuangan semakin dibuat pusing dengan kondisi pasar akhir-akhir ini, di tengah kesulitan tersebut saham emerging market (EM) tercatat underperform namun menjadi semakin mahal.

Indeks MSCI Emerging Markets mencatatkan kerugian bagi investor, termasuk dividen yang diinvestasikan kembali, sebesar 7,5 persen dalam 12 bulan terakhir, dibandingkan dengan total pengembalian 2,2 persen dari MSCI World Index.

"Laba rata-rata di perusahaan yang menjadi indikator indeks pasar berkembang MSCI telah merosot 3,9 persen pada tahun lalu, sebaliknya perusahaan-perusahaan di indeks pasar ekonomi maju mengalami peningkatan 6,4 persen," seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (13/6/2019).

Menanggapi hal ini, beberapa analis telah mengurangi perkiraan rata-rata keuntungan pada perusahaan-perusahaan di pasar berkembang dalam 12 bulan mendatang sebesar hampir 12 persen pada tahun lalu. Sementara itu, mereka telah menaikkan perkiraan untuk bisnis di negara maju sebesar 1,4 persen.

Penurunan tersebut membuat rasio pendapatan estimasi harga terlihat lebih besar. Dengan kata lain, rasio P/E dari Indeks MSCI Emerging Markets naik terutama karena alasan yang salah.

Mengingat bahwa saham di China dan Hong Kong berkontribusi terhadap 31 persen dari total indeks, otomoatis keduanya berkontribusi paling besar terhadap penurunan estimasi pendapatan.

Dikutip melalui Bloomberg, perkiraan dolar untuk Shanghai Composite Index telah menurun 6,9 persen dalam 12 bulan terakhir, sementara Hang Seng China Enterprises Index anjlok 15 persen.

Perang perdagangan antara AS dan China telah menimbulkan pertanyaan tentang proyeksi pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia dan prospek permintaan untuk perdagangan komoditas.

Ditambah lagi dengan proyeksi International Monetary Fund (IMF) terhadap pertumbuhan global yang terpangkas, aset berisiko menjadi semakin lemah.

Sementara itu, kebijakan The Fed yang lebih longgar diharapkan masih dapat menyelamatkan kinerja pendapatan pasar berkembang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham perang dagang AS vs China
Editor : Tegar Arief
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top