UMKM Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan 7 Persen

Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) memperkirakan 10 persen UMKM di Indonesia naik kelas dapat mendorong pertumbuhan ekonomi ke kisaran 7 persen.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 28 Mei 2019  |  10:25 WIB
UMKM Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan 7 Persen
Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri) berbelanja di UMKM binaan BUMN di rest area jalan tol Trans Sumatra Km 215 ruas Simapang Pematang- Kayu Agung, Tulang Bawang, Lampung, Jumat (24/5/2019). - ANTARA/Ardiansyah

Bisnis.com, JAKARTA - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) memperkirakan 10 persen UMKM di Indonesia naik kelas dapat mendorong pertumbuhan ekonomi ke kisaran 7 persen.

Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan data Kementerian Koperasi dan UMKM menunjukkan sebanyak 98,7 persen usaha di Indonesia merupakan usaha mikro, yang menyerap 89,17 persen tenaga kerja domestik serta berkontribusi sebanyak 36,82.persen terhadap PDB Indonesia. 

Kendati demikian, KEIN melihat perannya masih sangat kecil dalam kegiatan ekspor dan investasi sehingga masih memiliki potensi yang sangat besar. 

"Dari simulasi yang dilakukan oleh KEIN, jika 10 persen saja dari UMKM yang ada mengalami kenaikan kelas, hal tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tembus 7 persen, bahkan mencapai 9,3 persen [yoy]," ujar Arif, Senin (27/05/2019). 

Selain mengenjot UMKM, KEIN meyakini Indonesia mampu keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi  5 persen dengan mengenjot ekspor dan investasi. 

Selama ini pertumbuhan ekonomi nasional masih bertumpu pada konsumsi, baik konsumsi rumah tangga (RT) maupun konsumsi pemerintah. Sejak 1990-an, struktur perekonomian Indonesia masih di konsumsi rumah tangga. 

Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga belum optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Kontribusi konsumsi pemerintah terhadap perekonomian terbatas di kisaran 9 persen dan ini tidak bisa tumbuh lebih tinggi lagi,” kata Arif. 

Berdasarkan kondisi tersebut, KEIN menilai sudah saatnya pemerintah mulai bergeser mengandalkan ekspor dan investasi untuk menjadi tulang punggung perekonomian nasional. 

Hal ini juga sesuai dengan mandat Presiden Joko Widodo yang mengatakan kunci pertumbuhan ekonomi saat ini hanya ada dua, yakni kenaikan ekspor dan investasi. Namun sayangnya, sambung Arif, sejak 2016 pertumbuhan impor kembali lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspornya. 

Pada 2018, pertumbuhan ekspor hanya sebesar 6,7 persen, sementara pertumbuhan impor mencapai 20,2 persen. 

Ketergantungan terhadap impor bahan baku industri menjadi penyebab utama tingginya pertumbuhan impor Indonesia. 

Selain itu, pelemahan kinerja ekspor juga disebabkan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cihna sehingga cenderung menekan aktivitas perdagangan Indonesia.

"Ini tidak bisa dipungkiri karena China dan AS merupakan dua negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia,” ujarnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
umkm

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top