Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Keuntungan Industri China Susut 3,7 Persen

Perusahaan industri China mencatatkan penyusutan keuntungan berkelanjutan pada April akibat aktivitas manufaktur yang melambat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Mei 2019  |  16:50 WIB
Suasana di Pelabuhan Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China, 8 September 2018. - REUTERS/Stringer
Suasana di Pelabuhan Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China, 8 September 2018. - REUTERS/Stringer

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan industri China mencatatkan penyusutan keuntungan berkelanjutan pada April akibat aktivitas manufaktur yang melambat.

Pelemahan ini memberikan lebih banyak tekanan pada pembuat kebijakan yang saat ini masih memiliki sejumlah stategi untuk meningkatkan dukungan bagi ekonomi yang terkena dampak perang perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).

Penghasilan di sektor manufaktur utama China telah menurun sejak November tahun lalu, dengan pengecualian pada Maret, dengan lonjakan 13,9 persen, karena permintaan domestik dan global menurun.

Menurut data yang diterbitkan oleh Biro Statistik Nasional (NBS) China, laba industri turun 3,7 persen secara tahunan menjadi 515,4 miliar yuan atau senilai US$74,80 miliar pada April, sebagian besar disebabkan oleh perbandingan pertumbuhan yang lebih tinggi pada tahun sebelumnya.

"Data pada Maret diuntungkan berkat perusahaan yang membeli barang industri sebelum pemberlakuan pemotongan pajak pertambahan nilai [PPN]. Perusahaan-perusahaan itu kemudian mengurangi pembelian pada bulan April sehingga menyebabkan pukulan terhadap laba," ujar perwakilan dari NBS, Zhu Hong, pada pernyataan resmi, seperti dikutip melalui Reuters, Senin (27/5/2019).

Selama empat bulan pertama tahun ini, perusahaan-perusahaan industri meraih keuntungan 1,81 triliun yuan, turun 3,4 persen dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan penurunan 3,3 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Kontraksi laba sejalan dengan lemahnya pertumbuhan output industri pada periode Januari-April.

Investasi fixed asset yang lemah juga memicu kekhawatiran tentang permintaan pesanan baru yang tetap lamban pada April, sementara ekspor telah jatuh akibat penurunan tajam pada pengiriman ke AS.

Ketegangan perdagangan China dengan AS meningkat secara tiba-tiba bulan ini ketika Donald Trump menaikkan tarif barang-barang China senilai US$200 miliar dan mengancam akan mengenakan tarif hingga 25 persen pada US$300 miliar impor China lainnya.

AS juga telah menempatkan perusahaan telekomunikasi China Huawei Technologies Co Ltd ke dalam daftar hitam (black list), yang secara efektif melarang perusahaan untuk melakukan bisnis dengan perusahaan-perusahaan AS.

Keuntungan pada industri manufaktur telekomunikasi dan peralatan elektronik, yang lebih rentan terhadap tarif AS dibandingkan kategori produk lainnya, turun 15,3 persen pada Januari-April, memburuk dari penurunan 7 persen pada kuartal pertama tahun ini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china
Editor : Tegar Arief
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top