Laba Industri China Turun 3,7 Persen pada April

Laba perusahaan-perusahaan industri di China menyusut pada April, terimbas perlambatan aktivitas manufaktur.
Renat Sofie Andriani | 27 Mei 2019 12:46 WIB
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Laba perusahaan-perusahaan industri di China menyusut pada April, terimbas perlambatan aktivitas manufaktur.

Fakta ini memberi lebih banyak tekanan pada pembuat kebijakan untuk meningkatkan dukungan bagi ekonomi Negeri Tirai Bambu yang telah terdampak perang perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).

Menurut data yang diterbitkan oleh Biro Statistik Nasional (NBS) China pada Senin (27/5/2019), laba industri turun 3,7 persen y-o-y menjadi 515,4 miliar yuan (US$74,80 miliar) pada April. Padahal, raihan laba industri mampu melonjak 13,9 persen pada Maret, kenaikan terbesar dalam delapan bulan.

Laba di sektor manufaktur China telah menurun sejak November 2018, kecuali pada Maret, seiring dengan menurunnya permintaan domestik dan global.

“Raihan pada Maret diuntungkan dari perusahaan-perusahaan yang membeli barang-barang industri sebelum pemotongan pajak pertambahan nilai (PPN). Perusahaan-perusahaan itu kemudian mengurangi pembelian pada bulan April akibat pukulan terhadap laba,” jelas Zhu Hong dari NBS, seperti dikutip Reuters.

Selama empat bulan pertama, perusahaan-perusahaan industri memperoleh laba sebesar 1,81 triliun yuan, turun 3,4 persen dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan penurunan sebesar 3,3 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Kontraksi laba sejalan dengan lemahnya pertumbuhan produksi industri pada periode Januari-April. Investasi aset tetap yang lemah juga memicu kekhawatiran tentang permintaan karena pesanan pabrik baru, yang tetap lamban pada bulan April.

Sementara itu, performa ekspor telah merosot seiring dengan penurunan tajam pengiriman ke Amerika Serikat.

Seperti diketahui, gesekan perdagangan China dengan Amerika Serikat meningkat tiba-tiba bulan ini, ketika Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif terhadap barang-barang China senilai US$200 miliar serta mengancam akan memberlakukan tarif hingga 25 persen pada sisa impor China senilai US$300 miliar.

Pemerintah AS juga telah menempatkan raksasa peralatan telekomunikasi China Huawei Technologies Co Ltd ke dalam daftar hitam, yang secara efektif melarang perusahaan ini untuk melakukan bisnis dengan perusahaan-perusahaan AS.

Laba dalam manufaktur telekomunikasi dan peralatan elektronik, yang lebih rentan terhadap tarif AS dibandingkan kelas produk lainnya, pun melorot 15,3 persen pada Januari-April, memburuk dari penurunan sebesar 7 persen dalam tiga bulan pertama.

Iris Pang, Ekonom di ING, mengatakan konflik yang meluas antara China dan Amerika Serikat seputar Huawei bersama dengan meningkatnya kekhawatiran di negara-negara lain tentang keamanan produk-produk Huawei akan menekan ekspor China serta laba sektor telekomunikasinya.

“Ketika perang teknologi berlanjut, laba industri China mulai dari Mei kemungkinan akan memburuk lebih cepat (dari Januari-April),” terangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur china, perang dagang AS vs China

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top