Dampak Sanksi AS, Penjualan Huawei Diprediksi Turun 25 Persen

Sejumlah analis memperkirakan pengiriman produk Huawei dapat berkurang hingga 25 persen sepanjang tahun ini. Produk smartphone mereka kemungkinan akan hilang dari pasar internasional akibat sanksi Amerika Serikat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Mei 2019  |  06:25 WIB
Dampak Sanksi AS, Penjualan Huawei Diprediksi Turun 25 Persen
Ilustrasi Huawei. (Istimewa - Mashable)

Bisnis.com, JAKARTA -- Sejumlah analis memperkirakan pengiriman produk Huawei dapat berkurang hingga 25 persen sepanjang tahun ini. Produk smartphone mereka kemungkinan akan hilang dari pasar internasional akibat sanksi Amerika Serikat.

Menurut Fubon Research and Strategy Analytics, pengiriman smartphone di Huawei, diperkirakan dapat berkurang antara 4 persen - 24 persen pada tahun ini jika larangan tersebut tetap berlaku. 

Beberapa ahli memperkirakan pengiriman Huawei akan terus berkurang selama enam bulan ke depan tetapi menolak untuk memberikan perkiraan kasar karena ketidakpastian seputar sanksi tersebut.

Departemen Perdagangan AS memblokir akses Huawei untuk membeli produk asal AS pada pekan lalu di tengah meningkatnya perseteruan perdagangan dengan China. Larangan tersebut berlaku untuk barang dan jasa, yang artinya dapat mempengaruhi kegiatan produksi perusahaan non-Amerika.

Perusahaan teknologi termasuk Google dan perancang chip milik Grup SoftBank ARM mengatakan mereka akan menghentikan pengiriman dan pembaruan perangkat lunak untuk Huawei.

"Huawei dapat terhapus dari pasar ponsel pintar Eropa Barat tahun depan jika kehilangan akses ke Google," kata Linda Sui, direktur strategi telepon pintar nirkabel di Strategy Analytics, seperti dikutip melalui Reuters, Minggu (26/5/2019).

Dia memperkirakan pengiriman handset Huawei akan turun 23 peesen lagi tahun depan tetapi percaya perusahaan itu masih mampu bertahan di pasar China.

Fubon Research, yang sebelumnya memperkirakan Huawei akan mengirimkan 258 juta smartphone pada 2019, sekarang memprediksi perusahaan hanya akan mengirimkan 200 juta unit dalam skenario terburuk.

Huawei menguasai hampir 30 persen pasar Eropa menurut pelacak industri IDC dan mengirim 208 juta ponsel tahun lalu, termasuk setengahnya ke pasar di luar China. Perusahaan teknologi raksasa tersebut menganggap Eropa sebagai pasar paling penting untuk smartphone premiumnya.

Menurut keterangan perusahaan, Huawei telah mengembangkan teknologi yang dibutuhkan secara mandiri selama bertahun-tahun. Tetapi para ahli tidak percaya atas klaim tersebut.

Mereka mengatakan komponen kunci dan kekayaan intelektual yang diperlukan dalam perangkat Huawei tidak tersedia di luar AS.

"Huawei berpotensi akan mem-PHK ribuan orang dan tergeser sebagai pemain global untuk beberapa waktu," kata Stewart Randall, yang melacak industri chip di Intralink, sebuah perusahaan konsultan yang berbasis di Shanghai.

Beberapa analis juga mengatakan bahwa pembeli potensial ponsel Huawei kemungkinan akan beralih ke perangkat kelas atas dari Samsung Electronics dan Apple Inc, serta ponsel kelas menengah dari pesaing domestik OPPO dan Vivo.

"Ini meninggalkan sejumlah pangsa pasar yang dapat diambil oleh pesaing, terutama Samsung mengingat kekuatannya di wilayah seperti Eropa," kata Bryan Ma, yang meneliti pasar ponsel pintar global di IDC.

PriceSpy, situs perbandingan produk yang menarik rata-rata 14 juta pengunjung per bulan, melaporkan bahwa handset Huawei menjadi kurang menarik di kalangan pembeli online pasca sanksi daftar hitam AS.

"Selama empat hari terakhir, handset Huawei telah merosot secara popularitas, hanya menghasilkan hampir setengah klik sebanyak yang mereka lakukan pekan lalu di Inggris dan lebih rendah 26 persen di pasar global," kata PriceSpy.

Larangan ekspor Huawei juga dapat menunda peluncuran 5G China, kata analis Jefferies Edison Lee. Huawei mengatakan telah menandatangani kontrak 5G dengan 40 klien di seluruh dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
huawei

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top