Ahli Bendungan Kini Jadi Primadona

Bendungan sangat spesifik, bendungan di Indonesia yang dibangun itu tipe urukan tanah dan rockfill sehingga membutuhkan ahli bendungan khusus.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  17:47 WIB
Ahli Bendungan Kini Jadi Primadona
Suasana bendungan Rotiklot yang selesai dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Atambua, Nusa Tenggara Timur, Jumat (17/5/2019). - ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA -- Tenaga ahli bendungan saat ini sangat dibutuhkan seiring dengan kebutuhan Indonesia akan Bendungan yang tinggi.

Ketua Umun DPN Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo), Peter Frans mengatakan bahwa dahulu ahli bendungan tidak terlalu diperlukan, tetapi saat ini ahli bendungan diperlukan seiring dengan masifnya pembangunan bendungan saat ini.

"Dulu 10 tahun lalu itu pembangunan bendungan sedikit, sehingga orang yang berkecimpung di bendungan sedikit. Begitu Jokowi mengumumkan 56 bendungan, lacknya tinggi antara kapasitas dan ketersediaan," ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Menurut Peter, dengan adanya keterbatasan tenaga ahli bendungan ini, maka Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengadakan percepatan sertifikasi untuk ahli bendungan.

"Bendungan sangat spesifik, bendungan di Indonesia yang dibangun itu tipe urukan tanah dan rockfill sehingga membutuhkan ahli bendungan khusus," ujarnya.

Memang, pemerintah menargetkan 65 bendungan di mana sebanyak 49 bendungan baru dan 16 bendungan lanjutan. Hingga tahun 2018, sebanyak 55 dari 65 bendungan sudah dalam tahap konstruksi dimana 14 bendungan diantaranya sudah rampung atau dalam tahap penyelesaian akhir konstruksi.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan bahwa Indonesia sangat membutuhkan banyak ahli bendungan.

“Indonesia masih membutuhkan banyak bendungan. Jika dibandingankan dengan Korea yang luasnya setara dengan Jawa Tengah ada ribuan, Tiongkok puluhan ribu bendungan. Bendungan kita baru 231 ditambah 65, baru 296 yang baru bisa mengairi 20 persen dari irigasi kita,” katanya.

Pembangunan tampungan air di berbagai daerah di Indonesia akan terus dilanjutkan, untuk mencapai Visium Kementerian PUPR Tahun 2030 yakni rasio tampungan air terhadap jumlah penduduk bisa mencapai sebesar 120 meter kubik per kapita per tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bendungan

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup