Tangki Gas Alam Cair Eni Muara Bakau Berpotensi Penuh

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebut tanki gas alam cair (LNG) yang dipasok Eni Muara Bakau berpotensi penuh, lantaran tidak ada pengapalan ke pembeli.
Tangki Gas Alam Cair Eni Muara Bakau Berpotensi Penuh David Eka Issetiabudi | 21 Mei 2019 15:18 WIB
Tangki Gas Alam Cair Eni Muara Bakau Berpotensi Penuh
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebut tangki gas alam cair (LNG) yang dipasok Eni Muara Bakau berpotensi penuh, lantaran tidak ada pengapalan ke pembeli.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher menjelaskan potensi high inventory disebabkan pembeli yang ditunjuk oleh Pertamina meminta perubahan jadwal pengapalan kargo di Mei 2019.

“Perubahan tersebut akan berdampak terjadi potensi unmanageable high inventory di Kilang Bontang pada akhir Mei 2019,” katanya, dalam keterangan tertulis, Selasa (21/5/2019).

Menurutnya, jadwal pengambilan kargo LNG, sudah dibahas dari akhir tahun lalu, dan dimonitor berkala apabila ada perubahan operasional. SKK Migas juga telah berkoordinasi dengan para pihak, yakni Pertamina dan Kilang Bontang, untuk melakukan mitigasi.

Sebut saja seperti meminta Pertamina untuk tetap mengambil kargo LNG Muara Bakau sesuai dengan jadwal, mempersiapkan hal teknis untuk menghindari unmanageable high inventory di Kilang Bontang, dan mencegah terjadinya penurunan suplai gas dari Muara Bakau.

Sebelumnya, SKK Migas menyatakan ada 11 kargo LNG yang belum terjual atau uncommitted, yang disebabkan berkurangnya penyerapan LNG dari PT PLN (Persero).

Wakil Kepala SKK Migas Sukandar mengatakan serapan gas untuk sektor kelistrikan hingga akhir April lalu tercatat hanya 53,6% dari kontrak, yakni hanya 613,34 miliar british thermal unit per hari (billion british thermal unit per day/bbtud) dari kontrak 1.142,93 bbtud. Rendahnya realisasi serapan juga disebabkan karena PLN mengurangi permintaan LNG-nya pada tahun ini.

“Tahun ini untuk kepentingan PLN harusnya ada 17 kargo LNG, tetapi PLN minta 6 kargo saja. Jadi kami menjual 11 kargo ini,” katanya seusai rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (16/5).

Sementara itu, Deputi Pengendalian Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief Setiawan Handoko mengatakan LNG jatah PLN yang tak terserap ini seluruhnya berasal dari Kilang LNG Bontang, Kalimantan Timur.

Menurutnya, Jika tak terserap, maka ada potensi tangki penampungan gas di hulu bisa penuh sehingga produksi harus dipangkas.  “Iya [dijual ke pasar spot], dalam satu tahun ya. Itu yang kami khawatirkan jadi high inventory,” tuturnya.

Saat ini, lelang penjualan 11 kargo LNG sudah dimulai. Namun demikian, penjualan 11 kargo LNG ke pasar spot internasional wajib dilakukan persetujuan pemerintah. “Karena kalau dijual, di bawah [harga] awalnya. Jadi kami tanya dulu ke Pak Menteri [Menteri ESDM Ignasius Jonan], boleh apa enggak dijual,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pemasaran Korporat PT Pertamina (Persero) Basuki Trikora Putra mengakui bahwa pihaknya mulai melelang penjualan 5 kargo LNG dari Kilang Bontang. “Iya, itu lagi ditawarkan ke spot. Belum tahu kapan diumumkan pemenangnya,” tutur Basuki.

Hingga akhir April lalu, realisasi penyaluran LNG tercatat sebanyak 53,2 kargo, di mana sebanyak 28,9 kargo dari Kilang Bontang dan 24,3 kargo dari Kilang Tangguh. Dari penyaluran ini, penyerapan domestik tercatat sebanyak 17,3 kargo dan ekspor 35,9 kargo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lng, gas alam cair

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top