11 Kargo Gas Alam Cair Dilego di Pasar Internasional

Sebanyak 11 kargo gas alam cair akan dijual di pasar spot internasional seiring dengan tidak optimalnya penyerapan salah satu energi primer tersebut oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  09:28 WIB
11 Kargo Gas Alam Cair Dilego di Pasar Internasional
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Sebanyak 11 kargo gas alam cair akan dijual di pasar spot internasional seiring dengan tidak optimalnya penyerapan salah satu energi primer tersebut oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Padahal, PLN telah berkomitmen untuk menyerap 17 kargo gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) pada tahun ini. Namun, dalam perkembangannya, PLN hanya berkomitmen menyerap enam kargo LNG.

Wakil Ketua SKK Migas Sukandar mengatakan bahwa PLN melakukan revisi penyerapan LNG pada Februari 2019.

Pengurangan kargo LNG oleh PLN pada tahun ini membuat penyerapan gas untuk sektor kelistrikan hingga akhir April lalu tercatat hanya 53,6% dari kontrak, yakni hanya 613,34 miliar British thermal unit per hari (billion British thermal unit per day/BBtud) dari total kontrak 1.142,93 BBtud.

“Seharusnya 17 kargo, tetapi Februari lalu mereka merevisi dan hanya menyerap 6 kargo saja,” tuturnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, Kamis (16/5).

Menurutnya, kontraktor tidak akan sulit untuk menjual LNG di pasar spot. Sukarndar mengatakan, puluhan kargo LNG setiap hari bisa terjual di pasar spot.

Peningkatan kebutuhan gas diperkirakan baru akan terjadi menjelang akhir tahun ini dan saat harga LNG kembali merangkak naik. Adapun, 11 kargo LNG yang akan dijual di pasar spot internasional berasal dari Bontang.

“Setiap hari pasar di Asia, ada 20 kargo, tawar-menawar. Ini bukan sesuatu yang sulit. Saat musim dingin, kargo spot akan bagus karena harga mahal dan lebih gampang,” katanya.

Arif Setiawan Handoko, Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas, mengatakan bahwa pihaknya khawatir terjadinya penumpukan pasokan gas alam cair di kilang LNG.

“Karena PLN kan mungkin mengambil batu bara dan gas [untuk pembangkit listrik]. Kan memang dalam aturannya kami mengharuskan penggunaan gas pipa dulu diutamakan baru LNG,” katanya.

Kendati demikian, pihaknya menjamin pasokan jika sewaktu-waktu PLN membutuhkan tambahan LNG. Komitmen tersebut sesuai Keputusan Menteri ESDM No. 1790 K/20/MEM/2018. “PLN tetap bisa ambil LNG suatu waktu dibutuhkan,” tuturnya.

Menurutnya, pemberitahuan penurunan penyerapan LNG baru disampaikan beberapa bulan lalu, sedangkan pada Desember 2018 PLN masih komitmen untuk menyerap 17 kargo LNG.

Namun, dalam penjualan LNG di spot pasar internasional, PT Pertamina (Persero) pun belum mendapatkan pembeli.

Pada tahun ini, produksi LNG berasal dari dua fasilitas pengolahan gas utama, yaitu Kilang Bontang dan Tangguh mencapai 252 kargo LNG. Sebanyak 67 kargo akan diserap untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan 185 kargo lainnya akan diekspor.

Produksi dari Kilang Bontang pada tahun ini ditargetkan mampu mencapai 132 kargo, dengan 93 kargo diekspor. Sisanya, 39 kargo diperuntukkan untuk kebutuhan domestik. Selain Bontang, Kilang Tangguh ditargetkan memproduksi sebanyak 120 kargo. Sebanyak 28 kargo untuk domestik dan 92 kargo untuk ekspor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lng, gas alam cair

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top