Alasan Waralaba Indonesia Sulit Berkembang di Luar Negeri

Untuk mengikuti pameran, para pelaku waralaba harus mengeluarkan dana sendiri untuk menyewa stan, mengangkut barang, dan melakukan promosi di negara tujuan.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 14 Mei 2019  |  14:39 WIB
Alasan Waralaba Indonesia Sulit Berkembang di Luar Negeri
Pramuniaga memasukkan barang yang telah dibeli konsumen ke dalam kantong plastik di salah satu mini market di kawasan Jakarta Timur, Jumat (1/3/2019). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaaan ritel dan waralaba nasional mulai berani berekspansi ke luar Indonesia. Namun, permasalahan modal dan sumber daya manusia membuat perluasan pasar di negeri orang terhambat.

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia Levita Supit mengatakan, ekspansi yang dilakukan pewaralaba dan peritel modern Indonesia terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Hal itu dibuktikan dengan makin bertambahnya jumlah gerai dan perusahaan Indonesia yang terus mengembangkan bisnis mereka di luar negeri.

Bagaimanapun, dia mengatakan, pertumbuhan tersebut masih terbatas lantaran baru 10% dari sekitar 2.000 pewaralaba dan peritel modern Indonesia yang bermain di pasar internasional. Menurutnya, porsi tersebut masih sangat kecil apabila melihat potensi penerimaan pasar internasional terhadap produk dan merek asal Indonesia.

“Kendala utamanya ada pada permodalan. Rata-rata pewaralaba yang bisa ekspansi di luar negeri adalah pemain besar dengan permodalan yang sudah sangat kuat. Sementara itu, pemain menengah belum terlalu berani, karena tidak ada insentif dari sisi pemodalan,” jelasnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Dia menilai akses permodalan yang terbatas salah satunya disebabkan oleh bunga pinjaman perbankan yang terlalu tinggi. Walhasil, para pelaku menunda ekspansi kendati telah memiliki gambaran potensi pasar di luar negeri.

Di sisi lain, dia juga menilai bantuan dari pemerintah masih terbatas kepada pemberian slot untuk mendirikan stan di pameran internasional. Untuk mengikuti pameran, para pelaku waralaba harus mengeluarkan dana sendiri untuk menyewa stan, mengangkut barang, dan melakukan promosi di negara tujuan.

“Contohlah Malaysia. Negara itu memberi dukungan berupa bunga kredit permodalan bagi peritel dan waralaba untuk ekspansi ke luar negeri hingga 0%. Akibatnya, mereka bisa berkembang pesat untuk melakukan ekspansi di pasar internasional,” jelasnya.

Selain itu, kendala lain yang dihadapi para pelaku adalah kesiapan sumber daya manusia untuk ditempatkan di luar negeri. Dia mengatakan, para pengusaha masih menemui kesulitan dalam menempatkan karyawan yang memiliki spesialisasi untuk melakukan pelatihan terhadap pekerja lokal di negara tujuan agar sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan perusahaan.

Adapun, menurutnya, sejauh ini ekspansi para pewaralaba dan peritel modern Indonesia masih tersentral di Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Timur Tengah. Hal itu disebabkan kultur kebudayaan dan kebutuhan produk di kawasan-kawasan tersebut hampir serupa dengan Indonesia. Dia melanjutkan, pebisnis produk makanan dan minuman, spa dan produk kebutuhan sehari-hari menjadi yang paling besar melakukan ekspansi ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia Budihardjo Iduansjah mengakui, persoalan permodalan menjadi masalah krusial bagi para peritel untuk ekspansi ke luar negeri.

Menurutnya, selama ini para peritel yang sudah melakukan ekspansi ke luar negeri mengaku insentif dari negara tujuan masih belum dapat dimaksimalkan lantaran modal yang dimiliki pengusaha terbatas.

Dia menambahkan, dengan adanya kondisi tersebut, ekspansi peritel ke luar negeri relatif kecil dibandingkan dengan potensi yang tersedia. Di sisi lain, dia juga mengakui kurangnya dukungan promosi dari pemerintah untuk memasarkan produk dan merek Indonesia.

“Kalau kita lihat. Merek-merek dari negara lain itu menjadi ujung tombak untuk menarik minat wisatawan asing masuk ke negaranya. Jadi, merek yang negara lain miliki itu semacam etalase bagi negara yang bersangkutan. Di Indonesia tidak seperti itu. Justru sebaliknya, wisman datang dulu ke sini dan baru mengetahui ada merek-merek yang cocok dengan kebutuhan mereka,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel modern

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top