LAPORAN DARI FIJI : ADB Sebut Asia Pasifik Rawan Bencana Alam

Pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik berpotensi terhambat oleh tingginya risiko bencana alam.
Farodilah Muqoddam
Farodilah Muqoddam - Bisnis.com 03 Mei 2019  |  07:52 WIB
LAPORAN DARI FIJI : ADB Sebut Asia Pasifik Rawan Bencana Alam
Vice-President Knowledge Management and Sustainable Development ADB Bambang Susantono saat memberikan sambutan dalam diskusi mengenai pengelolaan risiko bencana alam di kawasan Asia Pasifik dalam rangkaian acara 52th ADB Annual Meeting 2019 di Nadi, Fiji, Kamis (2/5/2019). - Dok. ADB

Bisnis.com, NADI — Asian Development Bank (ADB) menyatakan bahwa negara-negara di kawasan Asia Pasifik rentan terhadap bencana alam, yang pada akhirnya berpotensi mengambat pertumbuhan ekonomi.

Menurut ADB, sekitar 4 dari 5 orang di negara berkembang Asia Pasifik rentan terpapar risiko bencana alam. Jumlah korban tewas akibat bencana alam di kawasan ini mencapai 55 persen dari total korban jiwa akibat bencana di seluruh dunia.

Adapun nilai kerusakan akibat bencana alam di wilayah ini mencapai 26 persen dari total nilai kerusakan akibat bencana alam global pada periode 2000—2018.

Vice-President Knowledge Management and Sustainable Development ADB Bambang Susantono mengatakan cuaca ekstrim menjadi masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat di wilayah tersebut. Sementara itu, bencana alam berupa gempa bumi menjadi bencana yang paling banyak memakan korban jiwa.

“Risiko bencana alam terjadi di hampir seluruh wilayah, tidak terbatas pada area tertentu,” ujarnya di sela-sela acara 52th ADB Annual Meeting 2019 di Nadi, Fiji, Kamis (2/5/2019).

Industri asuransi dan reasuransi dinilai memiliki kapasitas untuk mengkuantifikasi dan mengelola risiko bencana alam dan perubahan iklim. Para ahli di industri ini bisa membagikan pengetahuan kepada para pengambil kebijakan maupun para pelaku usaha di sektor lain untuk memitigasi risiko bencana alam melalui asuransi.

“Agar dampak bencana alam dapat diminimalkan, diperlukan berbagai produk asuransi untuk menanggung risiko bencana alam, yang meliputi asuransi untuk memproteksi individu, pelaku usaha kecil dan menengah, petani, infrastruktur dasar, dan jaringan rantai pasok dalam perdagangan,” papar Bambang.

Menurutnya, baik pemerintah maupun swasta harus bekerja sama untuk membangun ketahanan wilayah terhadap ancaman bencana alam.

Di satu sisi, pihak swasta bergantung kepada infrastruktur publik untuk memastikan bisnis tetap berjalan. Di sisi lain, pemerintah berharap kepada bisnis yang tahan terhadap guncangan agar pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dapat tercapai.

Presiden ADB Takehiko Nakao mengungkapkan dukungan pembiayaan untuk mengantisipasi perubahan iklim dan kesetaraan gender terus meningkat.

Porsi pembiayaan untuk mendukung penanganan dampak perubahan iklim serta mitigasi bencana pada 2016—2018 mencapai 56 persen terhadap total operasi ADB. Jumlah tersebut melampaui target yang ditetapkan yakni sebesar 45 persen pada 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bencana alam, ADB

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top