Siasat Pelni Atasi Keterbatasan Listrik di Pelabuhan Terpencil

Tidak mudah bagi perseroan mengambil keputusan membeli karena harganya yang cukup mahal, yakni Rp300 juta per boks untuk dimensi 20 feet.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 02 Mei 2019  |  09:09 WIB
Siasat Pelni Atasi Keterbatasan Listrik di Pelabuhan Terpencil
Ilustrasi - Kontainer berpendingin (reefer container). - Bisnis/multivu.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pelni (Persero) menggagas penggunaan kontainer berpendingin bertenaga surya untuk menyiasati keterbatasan listrik di pelabuhan-pelabuhan terpencil.


Direktur Angkutan Barang dan Tol Laut PT Pelni (Persero) Harry Boediarto mengatakan, Pelni sejauh ini baru dalam tahap pembicaraan dengan penyedia reefer container berteknologi solar panel di Australia. Menurut dia, tidak mudah bagi perseroan mengambil keputusan membeli karena harganya yang cukup mahal, yakni Rp300 juta per boks untuk dimensi 20 feet


Harry juga mengundang pemerintah untuk mengawali investasi, lalu teknologinya dipelajari untuk kemudian diproduksi massal di Indonesia. Sejauh ini, reefer container bertenaga matahari dipakai di medan-medan perang, untuk menyimpan kebutuhan logistik tentara. Di Negeri Kanguru, reefer container jenis itu juga dipakai oleh rumah sakit di tempat terpencil yang minim listrik untuk menyimpan jenazah.


"Di luar teknologinya sudah ada. Kalau pemerintah ingin meng-generate aktivitas, bisa saja pemerintah memulai," ujarnya seusai diskusi 'Cold Chain Infrastructure and Strategy', Selasa (30/4/2019).


Pelni sejauh ini mengangkut reefer container milik sendiri maupun pemerintah dalam program tol laut. Dari kapasitas 100 TEUs per kapal tol laut, 8-10 boks di antaranya reefer container yang digunakan Pelni untuk mengangkut ikan dari kawasan timur.

Pelni mengoperatori lima rute tol laut tahun ini, yakni Belawan-Malahayati-Sabang-Tapak Tuan-Belawan PP (T-1), Tanjung Priok-Tarempa-Selat Lampa-Penagi-Serasan-Midai-Tanjung Priok (T-3), Bitung-Tagulandang-Tahuna-Melangoane-Miangas-Marore-Bitung (T-5), Tidore-Morotai-Buli-Maba-P. Gebe-Tidore (T-10), dan Tanjung Perak-Makassar-Bitung-Tidore-Tanjung Perak (H-1).


Dalam diskusi, Harry memaparkan beberapa jenis reefer container berteknologi solar panel yang dapat digunakan di daerah terpencil, terluar, tertinggal, dan perbatasan, yang kekurangan pasokan listrik.


Pertama, pendingin atau chiller untuk mempertahankan barang yang mudah rusak dengan 100% tenaga surya. Tanpa bahan bakar, generator, atau koneksi jaringan, chiller ini dapat mempertahankan suhu 4 derajat celcius. Biaya operasi dan perawatannya pun rendah, dapat diangkut dan diamankan, beroperasi 24 jam di lingkungan apapun selama 365 hari setahun, serta tersedia pengoperasian dan pemantauan jarak jauh.


Kedua, pembeku atau freezer yang dapat mempertahankan suhu hingga -18 derajat celcius dengan teknologi yang sama. Ketiga, pembuat es yang dapat membekukan air tawar atau air laut saat matahari bersinar. 


Pelni sejauh ini baru menggunakan teknologi solar panel pada kapal penumpang dan barang yang sudah melalui tahap uji coba di perairan Batam. Tenaga matahari diubah menjadi energi yang disimpan di dalam baterai untuk menggerakkan mesin kapal. Dengan kecepatan 10 knot, kapal mampu berlayar 6-7 jam. Kapal tersebut dapat digunakan di daerah kepulauan untuk mengangkut orang sakit atau digunakan sebagai kapal penangkap ikan yang dilengkapi pendingin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelabuhan, kontainer, pelni

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top