10 Juta Sambungan Air Minum Baru Bakal Dicapai Lewat KPBU

Program untuk meningkatkan akses air minum kepada masyarakat akan lebih besar lagi. Tidak hanya dengan dana APBN tetapi juga investasi swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 25 April 2019  |  10:55 WIB
10 Juta Sambungan Air Minum Baru Bakal Dicapai Lewat KPBU
Petugas mengecek pompa utama Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan, di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (15/11/2018). - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA-- Hingga akhir tahun 2018, cakupan air minum di Indonesia baru mencapai sebesar 73 persen dan ditargetkan meningkat tahun 2019 menjadi 75 persen.

Program untuk meningkatkan akses air minum kepada masyarakat akan lebih besar lagi. Tidak hanya dengan dana APBN tetapi juga investasi swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

“Melalui KPBU diharapkan target 10 juta sambungan air minum baru sebagaimana arahan Bapak Wapres Jusuf Kalla bisa tercapai,” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dalam siaran resmi yang diterima Bisnis, Kamis (25/4/2019).

Menteri Basuki mengatakan di samping perlunya penambahan sambungan rumah baru melalui jaringan pipa PDAM, jaringan pipa yang ada dan sudah berusia lama juga perlu direvitalisasi.

Sebenarnya air yang keluar dari water treatment adalah air layak minum. Namun, menjadi tidak layak karena kemudian menjadi tidak layak setelah melewati pipa yang berkarat dan bocor. Selain itu juga masih terjadi kehilangan air akibat pengambilan secara ilegal.

Dengan skema KPBU, penambahan layanan air minum bisa lebih cepat seperti KPBU SPAM Umbulan yang akan melayani 320 ribu sambungan rumah di Kota Surabaya, Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan, Sidoarjo dan Gresik.

Masyarakat membayar biaya pengolahan air menjadi air layak minum dengan tarif terjangkau terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

“Dalam investasi di bidang air minum, tetap harus dikuasai oleh negara mulai dari pengaturan dan tarifnya,” katanya.

Di samping KPBU, Kementerian PUPR juga memiliki program reguler untuk peningkatan akses air minum di daerah diantaranya pembangunan SPAM Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.

Pembangunan SPAM Kota Ternate dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kebutuhan akan pasokan air baku seiring dengan pertumbuhan penduduk di Kota Ternate yang cukup pesat.

Meningkatnya kebutuhan air baku tersebut ternyata membuat Kota Ternate, khususnya Pulau Ternate mengalami masalah tentang ketersediaan air baku untuk air minum yang selama ini sangat tergantung pada air tanah.

SPAM Kota Ternate dibangun menggunakan APBN senilai Rp45 miliar pada tahun 2017 dan 2018. SPAM tersebut dibangun dengan Instalasi Pengolahan Air Ultrafiltrasi (IPA-UF) berkapasitas 100 liter/detik.

Pembangunan SPAM terdiri dari beberapa item kegiatan berupa sumber air baku dari sumur bor dengan kapasitas 5 liter/detik dengan alokasi 3,5 liter/detik untuk sanitasi dan 1,5 liter/detik untuk pengolahan air. SPAM tersebut dilengkapi dengan Instalasi Pengelolahan Air Ultra Filtration (UF) berkapasitas 1,5 liter/detik sehingga menghasilkan air siap minum, peralatan laboratorium dan bangunan operasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sistem penyediaan air minum (spam)

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup