Low Season, Tingkat Keterisian Garuda Indonesia Grup Kuartal I/2019 Naik Tipis

Garuda Indonesia Group berhasil meraih catatan positif dari aspek operasional dengan mendapatkan tingkat isian penumpang (seat load factor/SLF) di atas 70 persen sepanjang kuartal I/2019.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 17 April 2019  |  23:35 WIB
Low Season, Tingkat Keterisian Garuda Indonesia Grup Kuartal I/2019 Naik Tipis
Teknisi beraktivitas di dekat pesawat Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia, di Garuda Maintenance Facility AeroAsia, bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (13/3/2019). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA--Garuda Indonesia Group berhasil meraih catatan positif dari aspek operasional dengan mendapatkan tingkat isian penumpang (seat load factor/SLF) di atas 70 persen sepanjang kuartal I/2019.

Direktur Operasi Garuda Indonesia Bambang Adi Surya Angkasa mengungkapkan selama kuartal I/2019, secara grup maskapai telah melayani 7,8 juta penumpang, yang terdiri atas 4,7 juta penumpang Garuda dan 3,1 juta penumpang dari Citilink Indonesia.

Catatan ini cukup menggembirakan bagi emiten berkode GIAA, karena hasil ini justru diraih pada saat kuartal I atau dikenal sebagai masa rendah (low season) bagi dunia penerbangan.

"SLF Garuda tumbuh sebesar 3,5 persen menjadi 73,3 persen secara y-o-y dari capaian kuartal I/2018 sebesar 69,7 persen. Adapun, SLF Citilink juga tumbuh sebesar 1,3 persen menjadi 77,4 persen dari periode yang sama pada 2018 sebesar 76,1 persen," kata Bambang kepada Bisnis, Rabu (17/4/2019).

Dia menambahkan berdasarkan hasil survey terhadap penumpang yang dilaksanakan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta, mayoritas responden memahami penerapan harga yang dilakukan Garuda mengingat biaya operasi dan perawatan pesawat yang meningkat.

Bagi mereka, aspek keselamatan dan layanan menjadi perhatian utama, di samping fleksibilitas tiket untuk berganti jadwal penerbangan.

Menurutnya, hal tersebut yang turut meningkatkan optimisme maskapai bahwa potensi segmentasi pasar layanan penuh (full service) yang memang premium masih memiliki ruang lebar di Indonesia.

Namun, Garuda Group tetap memberikan pilihan harga dan layanan dengan kelas menengah dari kerjasama Sriwijaya Air maupun NAM Air dan layanan minimum (no frills) dari Citilink.

Di sisi lain, imbuhnya, Garuda juga berhasil mencatatkan kinerja ketepatan waktu terbang (on time performance/OTP) yang semakin solid. Berdasarkan data lembaga pemeringkatan OTP independen, OAG Flightview, Garuda berhasil mencatatkan capaian OTP tertinggi selama periode Desember 2018--Februari 2019 di atas 95 persen.

Lebih lanjut, Kerjasama Manajemen antara Citilink (Garuda Indonesia Group) dengan Sriwijaya Air Group juga telah berhasil mencatatkan pertumbuhan positif yang cukup signifikan. Terdapat peningkatan brand value atas perbaikan manajemen di Sriwijaya Group yang dilakukan oleh Garuda Group.

Catatan pendapatan usaha Sriwijaya Air pada periode Januari 2019 tumbuh sebesar 8,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018. Pertumbuhan pendapatan operasional Sriwijaya Air Group juga meningkat signifikan sebesar 245,5 persen.

Outlook kinerja positif yang dicapai perseroan turut sejalan dengan strategi bisnis jangka pendek Garuda Indonesia bertajuk Quick Wins Priorities dalam menunjang akselerasi bisnis perusahaan melalui memiliki yang berfokus pada tiga hal, yaitu transformasi budaya perusahaan melalui pengembangan SDM, proses, dan teknologi.

Selain itu, peningkatan pendapatan, dan terakhir memperbaiki struktur biaya. Namun, maskapai tetap memprioritaskan pelayanan kepada pelanggan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pesawat, garuda indonesia

Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top