ISPO Jadi Senjata Redam Kampanye Negatif Sawit

Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dinilai bisa meredam tuduhan negatif atas minyak kelapa sawit.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 09 April 2019  |  16:28 WIB
ISPO Jadi Senjata Redam Kampanye Negatif Sawit
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dinilai bisa meredam tuduhan negatif atas minyak kelapa sawit.

Wakil Presiden Direktur PT Mutuagung Lestar Irham Budiman mengatakan sertifikasi ISPO penting untuk menyiasati kondisi yang tak terprediksi ke depannya. Hal ini juga untuk membantu pekebun masyarakat atau smallholders untuk dapat memahamai dan mencapai standar yang diinginkan. 

"Dalam draft Renewable Energy Directive [RED] II, smallholders masih memiliki kesempatan untuk memasok produk sawit ke kancah Uni Eropa. Oleh karena itu dirasa penting bagi smallholders untuk dapat memenuhi standar, salah satunya dari sisi lingkungan, agar dapat lebih bersaing dalam kancah internasional," kata Irham dalam siaran resmi (9/4). 

PT Mutuagung Lestari atau MUTU International, adalah perusahaan yang mengakomodir perusahaan-perusahaan perdagangan kelapa sawit untuk melakukan pengujian dan mendapatkan sertifikasi ISPO. Saat ini, Mutu International sendiri telah mengeluarkan sebanyak 167 sertifikasi ISPO. 

Adapun dari 167 sertifikat yang telah diserahkan, tiga di antaranya diserahkan kepada pelaku sawit smallholders.

Presiden Direktur PT Mutuagung Lestari, Arifin Lambaga mengatakan penerapan standar ini dirasa perlu untuk diterapkan untuk tetap memerhatikan keberlangsungan lingkungan dan sebagai perbaikan untuk perusahaan-perusahaan yang belum memenuhi standar tersebut agar CPO dapat lebih bersaing, terutama dalam kancah internasional. 

"Saat ini, telah terdapat 457 perusahaan yang telah mengantongi sertifikasi ISPO yang telah dikeluarkan oleh lembaga-lembaga sertifikasi. 35% di antaranya atau total sekitar 167 adalah sertifikasi yang dikeluarkan oleh MUTU International," katanya.

Perdagangan kelapa sawit antara Indonesia dan Uni Eropa berada dalam situasi panas. Pemicunya, Parlemen Eropa menyatakan bahwa minyak kelapa sawit mentah (CPO) adalah produk yang tidak ramah lingkungan dalam skema RED II.

Dalam draft tersebut, minyak kelapa sawit dikeluarkan dari pemenuhan bahan bakar nabati di Uni Eropa.  Hal ini, kata Arif, mengancam posisi Indonesia, sebagai salah satu negara produsen minyak sawit terbesar dunia. 

Menurutnya dalam menyikapi isu ini, industri kelapa sawit perlu menjawab melalui sertifikasi ISPO. Standar tersebut memuat indikator-indikator yang menjamin bahwa penanaman dan produk yang dihasilkan berkelanjutan dan ramah terhadap lingkungan.

Penerapan standar ini dapat menjamin adanya sustainability dan dapat memperbesar peluang produk-produk kelapa sawit asal Indonesia masih dapat diterima secara internasional. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cpo, kelapa sawit

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top