Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengintip Bisnis Sake dan Wine di Negeri Sakura

Jepang memang tidak seperti Indonesia. Dalam hal bisnis minuman beralkohol pun, Negeri Sakura punya cerita yang berbeda.
Yodie Hardiyan
Yodie Hardiyan - Bisnis.com 01 April 2019  |  17:31 WIB
Suasana galeri milik Takahata Wine Co., Ltd di Yamagata yang menjual berbagai wine produksi perusahaan itu. - Bisnis/Yodie Hardiyan
Suasana galeri milik Takahata Wine Co., Ltd di Yamagata yang menjual berbagai wine produksi perusahaan itu. - Bisnis/Yodie Hardiyan

Bisnis.com, JAKARTA -- Jepang adalah surga bagi penyuka minuman beralkohol. Tidak sulit menemukan bir serta wine, dan tentu saja sake, di negara empat musim ini.

Di pusat-pusat perbelanjaan, di kota besar atau kota kecil, kita mudah menemukan minuman beralkohol dijual dalam berbagai merek, jenis, rasa, harga, dan kualitas.

Menemukan minuman beralkohol di toko-toko di Tokyo misalnya, sama mudahnya seperti menemukan mie instan, rokok, atau air mineral di toko-toko di Indonesia. Tidak ada larangan menjual bir di supermarket seperti di Jakarta.

Berbagai jenis minuman itu tidak jarang menjadi teman makan sushi, ramen, sashimi, baik oleh warga asli Jepang maupun bukan, termasuk para turis. Usia legal untuk mengonsumsi minuman beralkohol di Jepang adalah 20 tahun.

Galeri Sakagura milik Okunomatsu Sake Brewery Co. Ltd di Fukushima tidak hanya menjual sake, tapi juga berbagai produk terkait sake seperti gelas./Bisnis-Yodie Hardiyan

Pada akhir Februari sampai awal Maret 2019, sejumlah wartawan Asia, termasuk dari Bisnis.com, diundang oleh Pemerintah Jepang untuk mengunjungi pabrik sake di Prefektur Fukushima dan produsen wine di Prefektur Yamagata.

Kami berkesempatan melihat secara langsung, walaupun dalam waktu singkat, sebuah bisnis yang tidak kecil dan berusia panjang ini. Bisnis minuman beralkohol adalah sebuah potensi ekonomi yang bukan hanya membuka lapangan pekerjaan tapi juga menarik wisatawan untuk mengeluarkan uang.

Pabrik pertama yang kami kunjungi adalah pabrik pembotolan sake milik Okunomatsu Sake Brewery Co.Ltd di Fukushima. Usaha sake Okunomatsu telah dimulai sejak 1716 (lebih dari 300 tahun lalu!) oleh keluarga samurai.

Saat ini, perusahaan ini dipimpin oleh generasi ke-19.

Tempat pembuatan sake (sake brewery) milik Okunomatsu terletak di kaki Gunung Adatara. Dalam brosurnya, Okunomatsu mendeskripsikan bahwa tempat itu merupakan lingkungan yang ideal untuk membuat dan menyimpan sake.

"Salju yang jatuh di Gunung Adatara mencair pada waktunya, meresap ke dalam bumi dan membutuhkan 40 tahun untuk menetes dan menjadi sumber air yang jernih dan bersih. Dengan keseimbangan mineral yang luar biasa, ini adalah tempat yang ideal bagi air untuk pembuatan sake," tulis brosur Okunomatsu.

Suasana di galeri Sakagura milik Okunomatsu Sake Brewery Co.Ltd di Fukushima yang menjual berbagai produk produksi perusahaan./Bisnis-Yodie Hardiyan

Salah seorang perwakilan Okunomatsu yang kami temui, Masahiro Sakuma, menyatakan pabrik pembotolan ini mampu memproduksi 1,2 juta botol sake per tahun. Menurutnya, sake Okunomatsu ini lebih banyak dikonsumsi di dalam negeri.

"Hanya 3% untuk ekspor," sebut Sakuma, yang mengungkapkan bahwa Okunomatsu mengekspor sake ke lebih dari 20 negara dan salah satunya adalah Indonesia.

Di luar pabrik pembotolan, tepatnya di bagian depan pabrik, Okunomatsu memiliki sebuah galeri atau toko yang menjual berbagai produknya.

Tentu saja, bisnis sake tidak hanya sake. Galeri bernama Sakagura itu menjual berbagai produk yang berkaitan dengan sake seperti gelas kecil, mangkuk, sampai kaus.

Setelah dari Okunomatsu, kami mengunjungi tempat usaha milik Takahata Wine Co., Ltd yang mengelola pembuatan anggur (winery) di Yamagata. Jaraknya sekitar 2 jam perjalanan menggunakan kereta cepat dari Tokyo.

Di dalam sebuah area yang telah ditempati sejak 1990, Takahata mengelola winery dan bangunan yang berfungsi sebagai pusat penjualan wine serta produk-produk lain, salah satunya makanan berbahan baku anggur.

Bangunan Takahata yang bergaya Eropa menjadi sebuah tempat wisata yang menarik di Yamagata. Orang-orang datang bukan hanya untuk membeli produk tapi juga berfoto dengan latar bangunan ini.

Pengunjung yang datang ke tempat ini berasal dari berbagai latar belakang umur. Tidak sedikit orang tua yang mengajak anak-anak mereka yang masih kecil untuk melihat berbagai wine yang dipasarkan di sana.

Tempat itu juga menjual produk seperti es krim yang disukai anak-anak.

Seorang perempuan tampak menggendong anak kecil melihat-lihat produk wine di galeri milik Takahata Wine Co.,Ltd di Yamagata./Bisnis-Yodie Hardiyan

Dalam hal penjualan produk, kendati tidak banyak, Takahata mengekspor wine yang diproduksinya ke berbagai negara seperti Hong Kong, Taiwan, dan Singapura. Indonesia tidak termasuk di antaranya.

Salah seorang pembuat wine (winemaker) Takahata yang kami temui, Hisa Kawabe, menyampaikan optimismenya terhadap bisnis wine di Jepang.

"Pemasaran wine ini akan tumbuh, khususnya karena Olimpiade 2020," ujarnya, merujuk kepada Olimpiade yang akan digelar di Tokyo pada 2020.

Konon, bagi sebagian orang, wine enak diminum ketika makan makanan daging seperti wagyu (daging sapi Jepang). Pada saat musim dingin, wine enak dikonsumsi untuk menghangatkan badan, terutama pada malam hari setelah seharian beraktivitas.

Apakah orang Jepang suka minum minuman beralkohol? Ya, kendati tidak semuanya menyukai aktivitas ini.

Satu orang Jepang yang kami temui bercerita bahwa mengonsumsi minuman beralkohol telah menjadi budaya yang dipraktikkan oleh sebagian orang Jepang.

Dengan minum alkohol, mereka dapat membicarakan hal-hal yang tidak bisa mereka ceritakan ketika tidak dalam keadaan terkena pengaruh alkohol. Aktivitas ini biasanya dilakukan pada malam hari, untuk membuat tubuh terasa lebih rileks setelah seharian bekerja dalam tekanan.

Kendati tidak sulit menemukan minuman beralkohol di Jepang, berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), level konsumsi alkohol di Jepang sebenarnya masih di bawah rata-rata negara-negara OECD lainnya. Konsumsi itu juga menurun dalam 20 tahun terakhir.

Pada 2012, masih menurut data OECD, rata-rata 7,2 liter alkohol murni per kapita dikonsumsi di Jepang atau lebih rendah dibandingkan dengan estimasi 9,1 liter di negara-negara OECD.

Suasana galeri milik Takahata Wine Co., Ltd di Yamagata, Jepang yang menjual berbagai wine produksi perusahaan itu./Bisnis-Yodie Hardiyan

Dalam sebuah blog bernama GaijinPot, seorang penulis bernama Kay Sakamoto menulis bahwa "di Jepang makan malam dan minum bersama teman kerja adalah sesuatu yang umum. Faktanya, ini bisa menjadi persyaratan tidak tertulis di beberapa perusahaan."

Menurutnya, banyak orang Jepang merasa pesta setelah kerja adalah penting untuk mempererat hubungan. “Minum bareng” di luar kantor dapat digunakan sebagai sarana untuk mengerti siapa teman kerja mereka.

Kunjungan singkat ke Jepang itu mengingatkan situasi di Indonesia.

Di Indonesia, tidak sedikit orang yang suka minum minuman beralkohol. Namun, bisnis minuman beralkohol di Indonesia, terutama minuman lokal seperti tuak, arak, ciu, lapen, dan sebagainya, belum mampu bernasib sama seperti sake yang sudah dikenal luas secara global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang minuman beralkohol
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top