Menpar Sarankan Aceh Bentuk KEK Pariwisata, Ada Insentif Untuk Airlines

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengusulkan agar Aceh membentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 23 Maret 2019  |  17:02 WIB
Menpar Sarankan Aceh Bentuk KEK Pariwisata, Ada Insentif Untuk Airlines
Foto areal ruas jalan gerbang barat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (24/2/2019). - ANTARA/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengusulkan agar Aceh membentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata.

Usulan itu disampaikan Menpar dengan pertimbangan bahwa KEK pariwisata memiliki beberapa keunggulan, terutama dalam hal kemudahan perizinan bagi investor.

"Tantangan negara yang terbesar adalah dalam perizinan karena birokrasinya berbelit-belit dan KEK akan memudahkan. Lihat saja Nusa Dua Bali, prosesnya sangat mudah dan itu kelebihan dari KEK. Kelebihan yang kedua adalah pelayanan dan yang ketiga saat menjadi KEK maka infrastruktur dan fasilitas dasar akan didukung penuh oleh pemerintah," ujar Menpar, seperti dikutip, Sabtu (23/3/2019).

Usul Menpar membentuk KEK pariwisata di Aceh bukan tanpa dasar, terlebih dengan mempertimbangkan sektor pariwisata Aceh yang berkembang serta tingginya minat masyarakat untuk menjadikan Aceh sebagai salah satu tujuan wisatawan. Bahkan, Aceh saat ini sedang bersiap menuju target sebagai salah satu world best halal destination.

Posisi Aceh sebagai destinasi halal memang tidak diragukan. Saat ini Aceh bersama dengan Lombok sedang mengarah untuk menjadi destinasi wisata halal. Namun untuk saat ini, Aceh masih menghadapi masalah aksesibilitas. Untuk itu Menpar menawarkan insentif bagi maskapai penerbangan yang mau membuka rute baru ke Aceh.

"Untuk itu bila ada airlines yang mau membuka rute baru penerbangan, Kemenpar akan memberikan insentif hingga 50 persen. Kemenpar juga akan memberikan subsidi di awal-awal bagi flight yang membuka rute baru karena demand-nya pasti masih kecil. Terutama rute flight dari dan ke China Selatan serta India," ujar Menpar.

Lebih lanjut dia menilai, wisatawan dari China Selatan dan India, merupakan segmentasi wisatawan yang dapat ditarik ke Aceh.

"China Selatan yang mayoritas Muslim memiliki potensi sebagai kantong wisatawan. Kesukaan mereka adalah pantai dan ikan cakalang. Selain China, India juga bisa ditarik karena 40 persen penduduknya adalah Muslim," jelas Menpar.

Sementara dari segi atraksi, Menpar meminta beberapa nilai seperti creative value, commercial value, dan consistency diperhatikan.

"Creative value misalnya dengan menggunakan koreografer dengan nama yang mendunia dan desainer untuk memoles gerakan serta kostum penari Aceh. Sementara itu, commercial value terkait dengan investasi untuk menarik orang. Komposisinya preevent harus 50 persen, on event 30 persen, dan post event  20 persen. Terakhir, consistency, event-event dapat masuk CoE asalkan konsisten dilakukan dalam tiga dan empat tahun," ujarnya.

Aceh memiliki berbagai potensi pariwisata baik alam, budaya, maupun buatan untuk menarik wisatawan.

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menjelaskan jumlah kunjungan wisatawan di Aceh terus meningkat dan target yang ingin dicapai pada 2019.

Jumlah kunjungan wisatawan Aceh terus meningkat dari waktu ke waktu, pada 2017 Aceh mampu menarik 2,3 juta wisnus, jumlah ini meningkat pada 2018 menjadi 2,5 juta wisnus. Pada 2019, Aceh ditargetkan mampu menarik 2,7 juta wisnus.

“Untuk 2019, Aceh juga menargetkan bisa menarik 150 ribu wisman dan 40.000 wisatawan Muslim," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, kek

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top