NERACA DAGANG SURPLUS : Rampungnya Proyek Infrastruktur Ikut Berperan

Badan Pusat Statistik melihat kemungkinan mulai rampungnya beberapa proyek pemerintah menjadi salah satu faktor penurunan impor pada Februari ini.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 15 Maret 2019  |  14:52 WIB
NERACA DAGANG SURPLUS : Rampungnya Proyek Infrastruktur Ikut Berperan
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik melihat kemungkinan mulai rampungnya beberapa proyek pemerintah menjadi salah satu faktor penurunan impor pada Februari ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan memang banyak infrastruktur yang sudah mendekati rampung. 

"Mungkin itu salah satu faktor, saya tidak bisa mengatakan langsung karena penurunan impor ini didorong oleh banyak hal," papar Suhariyanto, Jumat (15/03/2019).

Faktor lain yang dilihat BPS adalah jumlah hari kerja, berbagai kebijakan pemerintah terkait dengan pengendalian impor, serta implementasi dari B20 turut berpengaruh.

Menurutnya, kebijakan ini harus terus didorong. Intinya, kebijakannya sudah bagus, hanya perlu lebih gencar lagi ke depannya agar terimplementasi dengan baik.

Ketika ditanya peluang surplus di bulan-bulan selanjutnya, Suhariyanto menuturkan pihaknya sulit membaca karena setahun lalu defisit yang membayangi neraca perdagangan terjadi hingga delapan kali.

"Dan kita semua tahu persis 2019 bukan tahun yang mudah. Jadi upaya untuk mengendalikan impor harus terus dimonitoring," ungkap Suhariyanto.

Surplus neraca perdagangan pertama dalam empat bulan terakhir ini sebesar US$330 juta, lebih baik dibandingkan defisit periode yang sama tahun lalu sebesar US$53 juta.

Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro mengungkapkan surplus ini dapat memperbaiki defisit transaksi berjalan.

"Kami memperkirakan full year defisit transaksi berjalan akan turun ke kisaran 2,78% dari sebelumnya 2,98%," kata Andry.Alhasil, cadangan devisa akan lebih kuat dikisaran US$125 miliar pada akhir 2019.

Hal ini dipengaruhi tiga faktor utama. Pertama, berkurangnya tekanan eksternal, baik normalisasi Fed Fund Rate dan tensi perang dagang China dan AS.

Kedua, perbaikan neraca perdagangan yang akan berpengaruh pada transaksi berjalan ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang efektif dalam menekan impor dengan pemberlakuan kenaikan PPh 22, wajib B20, dan kenaikan level pengunaan komponen domestik (TKDN).

Terakhir, Andry melihat rendahnya harga minyak global turut berpengaruh dalam perbaikan defisit transaksi berjalan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surplus perdagangan

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top