WNI Jadi Korban, KNKT Minta Dilibatkan Investigasi Ethiopian Airlines

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sudah meminta agar dilibatkan dalam investigasi kecelakaan penerbangan Ethiopian Airlines ET 302 berjenis Boeing 737 Max 8 pada Minggu (10/3/2019), mengingat ada seorang warga negara Indonesia yang menjadi korban tewas.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 12 Maret 2019  |  17:26 WIB
WNI Jadi Korban, KNKT Minta Dilibatkan Investigasi Ethiopian Airlines
Tiket milik salah satu penumpang terlihat di lokasi jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET 302, di dekat Kota Bishoftu, sebelah tenggara Ibukota Addis Ababa, Ethiopia, Senin (11/3/2019). - REUTERS/Tiksa Negeri

Bisnis.com, JAKARTA -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sudah meminta agar dilibatkan dalam investigasi kecelakaan penerbangan Ethiopian Airlines ET 302 berjenis Boeing 737 Max 8 pada Minggu (10/3/2019) kemarin, mengingat ada seorang warga negara Indonesia yang menjadi korban tewas.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Surjanto Tjahjono menuturkan pihaknya telah mengontak otoritas baik otoritas Etiopia maupun penerbangan internasional untuk terlibat dalam investigasi kecelakaan tersebut.

"Jadi kita kontak ke Boeing, kontak ke FAA [Federal Aviation Assosiation], kontak ke NTSW [National Transportation Safety World], kita tanya apa yang menjadi temuan awal, karena di Indonesia juga masyarakat di sini butuh informasi," ungkapnya, di sela-sela agenda 'Indonesia Aviation Training & Education Conference', Selasa (12/3/2019).

Namun, permintaan tersebut belum mendapat respons. KNKT pun meminta untuk terus diberitahu apabila ada perkembangan signifikan.

Selain itu, KNKT juga sudah mengirim surat elektronik ke Ethopia agar dapat terlibat dalam penyelidikan. Menurutnya, sesuai dengan kesepakatan internasional, Indonesia seharusnya dapat terlibat karena ada WNI yang menjadi korban.

Warga Indonesia yang turut menjadi korban dalam insiden tersebut adalah Harina Hafitz. Harina tercatat sebagai salah satu staf World Food Program (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengemban tugas di Roma.

"Kita menjadi expert di sana, kita boleh meninjau lokasi, diskusi di sana, kita juga menawarkan mereka kalau mereka butuh bantuan, kami siap bantu mereka," terangnya.

Dia menyebutkan sesama lembaga investigasi KNKT dapat menawarkan bantuan dan hal ini merupakan sesuatu yang lumrah dilakukan. Indonesia katanya, biasa membantu Myanmar, pun Indonesia acap meminta bantuan Australia dalam investigasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
boeing 737

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top