Jokowi Minta Pertumbuhan Pembangkit Listrik Disesuaikan dengan Permintaan

Presiden Joko Widodo menyatakan ketersediaan pasokan listrik melalui pembangkit listrik harus disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi dan permintaan pasar.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  16:24 WIB
Jokowi Minta Pertumbuhan Pembangkit Listrik Disesuaikan dengan Permintaan
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, CILACAP - Presiden Joko Widodo menyatakan ketersediaan pasokan listrik melalui pembangkit listrik harus disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi dan permintaan pasar.

Pasalnya, dia mengemukakan, jika pertumbuhan pembangkit listrik tidak mengikuti permintaan yang ada maka justru itu akan membebani PT PLN (Persero).

"Ya disesuaikan dengan permintaan pasar. Saya kira ini yang [sudah] operasional ada, yang tahap konstruksi ada, dalam tahapan PPA juga ada. Saya kira semuanya berjalan. Tapi dikendalikan karena kalau pasokannya terlalu banyak bebannya ada di PLN harus bayar," kata Jokowi seusai meresmikan PLTU Ekspansi 1x660 MW di Cilacap, Senin (25/2/2019).

Lebih lanjut, dia menambahkan, jika memang permintaannya ada maka pembangunan pembangkit listrik harus dipercepat. Tetapi, jika kebutuhan listrik di suatu daerah sudah mencukupi maka tidak perlu ada investasi pembangkit listrik lagi.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028, asumsi kebutuhan listrik tahun ini sebesar 6,42% atau lebih rendah dibandingkan dengan RUPTL 2018—2027 sebesar 6,86%.

Sementara itu, pengamat menilai pertumbuhan permintaan listrik dalam RUPTL 2019—2028, pada realitasnya akan lebih jauh rendah dari yang diperkirakan PLN.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa memperkirakan adanya potensi selisih 13 GW (gigawatt) dari konsumsi dan kapasitas listrik yang dihasilkan PLN pada 2028.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
listrik, pembangkit listrik

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top