Bisnis Salon Masih Menggiurkan, Ini Market Utamanya

Bisnis salon kecantikan ternyata tak surut oleh waktu, bahkan kini pasar milenial mulai mendominasi. Tumbuhnya kesadaran soal penampilan dan kemunculan media sosial turut membantu salon kecantikan tetap diminati kalangan muda.
Bisnis Salon Masih Menggiurkan, Ini Market Utamanya
Asteria Desi Kartika Sari, Eva Rianti, Reni Lestari - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  09:17 WIB
Bisnis Salon Masih Menggiurkan, Ini Market Utamanya
Penyedia jasa perawatan tubuh dan rambut melayani konsumen di salah satu salon kecantikan di Malang, Jawa Timur, Kamis (22/6). - Antara/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA -- Bisnis salon kecantikan ternyata tak surut oleh waktu, bahkan kini pasar milenial mulai mendominasi. Tumbuhnya kesadaran soal penampilan dan kemunculan media sosial turut membantu salon kecantikan tetap diminati kalangan muda.

Walau begitu, kalangan milenial memiliki selera yang berbeda dengan generasi X (kelahiran 1961-1980) atau generasi baby boomers yang lahir sebelum 1961. Alhasil, adaptasi salon terhadap gaya pun baru lebih cepat untuk mengikuti selera pelanggannya.

Bahkan, sejak 2000-an telah masuk berbagai jaringan salon internasional ke Indonesia, yang turut membawa nilai-nilai baru maupun standar tersendiri.

Sebut saja jaringan Toni & Guy dari Inggris, One Piece Hair Studio yang digawangi hairstylist dari Jepang, hingga salon-salon Korea dan Singapura.

Penata rambut profesional Rudy Hadisuwarno membenarkan bahwa pangsa pangsa pasar milenial sangat potensial, bahkan bisa mencapai 50%. Kelompok usia ini selalu update dengan berbagai macam gaya, baik dari model rambut ataupun warna rambut. Mereka juga memiliki banyak permintaan.

“Menurut saya mereka itu cepat sekali mengikuti tren yang sedang digemari saat ini. Dari segi layanan mereka membutuhkan service yang cepat dan efisien,” ujarnya.

Menurut Rudy, jika dibandingkan dengan era sebelumnya, saat ini kompetisi bisnis salon saat lebih ketat. Pasalnya, selain pemain lokal sendiri, salon dengan jaringan global juga telah mengisi ceruk pasar salon Tanah Air.

One Piece Hair Studio asal Negeri Sakura, misalnya, kini telahmemiliki lima cabang, yakni  di Lippo Mall Kemang Village, Mall Central Park, Mall Kelapa Gading, Pakubuwono Residences, dan Pasaraya Blok M yang semuanya di Jakarta.

Hadir sejak 2010, One Piece awalnya lebih mengincar pelanggan internasional, atau orang-orang yang peka dan mengerti tentang kecantikan sesuai tren global. Namun sekarang pelanggan lokal terus naik dan mencapai 60% dari seluruh pelanggan.

Direktur One Piece Hair Studio Hisato Suzuki mengatakan bahwa dibandingkan 9 tahun yang lalu, hampir 50% pelanggan One Piece adalah kaum milenial. Menurutnya, kaum muda suka dengan hal-hal yang baru dan kreatif.

Adapun, dalam berkompetisi, One Piece memiliki teknologi dan teknik yang dianggap terdepan. Tak hanya menjual bisnis saja, One Piece juga menjual edukasi dengan cara peduli terhadap masa depan masyarakat Indonesia mengenai dunia tata rambut.

“Kami ingin mengembangkan bakat masyarakat indonesia dengan kurikulum One Piece sesuai standar internasional. Kami menghabiskan waktu dan hal-hal lainnya untuk memajukan industri tata rambut Indonesia,” ujarnya.

Diakuinya, memang tak mudah untuk membawa masyarakat Indonesia untuk mengikuti standar internasional lantaran ada perbedaan budaya. Namun, dengan gaya disiplin Jepangnya, Hisato mengklaim usahanya selama ini membuahkan hasil.

Di kompetisi salon sendiri, Hisato mengklaim punya keunggulan kompetitif yang tidak mudah ditiru karena memang memiliki perbedaan budaya yang dibawa. “Selain itu kami memiliki teknik gunting yang spesial, kami menerapkan omotenashi, dan selalu membawa hal-hal baru ke dunia industri tata rambut oleh sebab itu kami dapat menunjukan perbedaan kami.”

SANGAT POTENSIAL

Sementara itu, Master Franchisor Toni & Guy Hairdressing Joti Shahdadpuri mengatakan bisnis kecantikan di Indonesia sangat potensial. Pasalnya,sudah banyak masyarakat Indonesia yang sangat peduli dengan penampilan, apalagi media sosial ikut berpengaruh.

Toni & Guy sendiri adalah jaringan salon asal Inggris yang kini telah hadir di empat lokasi di Tanah Air, yaitu di Plaza Indonesia, Mal Kasablanka, Pantai Indah Kapuk, dan Pondok Indah Mal. Salon ini pertama kali masuk Indonesia pada 2004.

“Kami selalu berpedoman dengan lookbook yang telah ditentukan oleh Toni & Guy yang dikeluarkan UK setiap tahun. Setiap tahun biasanya terdapat beberapa inovasi. Gaya itu yang kami tawarkan,” ujar Joti.

Untuk eksekusinya, Toni & Guy memiliki teknik cutting sendiri untuk menciptakan potongan rambut. Selain itu, salon ini memiliki teknik parsial dan sectioning sendiri pada teknik pewarnaan.

Namun, selain mengikuti standar internasional, Toni & Guy mengadaptasi tren potong dan warna dengan gaya dan tekstur rambut pelanggannya di Indonesia.

Saat ini, omzet  per gerai Toni & Guy kurang lebih mencapai Rp300 juta-Rp500juta per bulannya.

Untuk pangsa pasarnya, Toni & Guy tidak membatasi diri pada kelompok usia tertentu. Walau begitu, milenial tetap jadi salah satu pelanggan yang besar, mencapai lebih dari 50%.

“Kami beberapa kali juga bekerja sama dengan event-event kecantikan seperti fashion week yang dapat membantu mengembangkan brand, dan menunjukan tren gaya rambut yang kami tawarkan,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
salon

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top