Genjot Lini Bisnis Gas, Medco Incar Blok Corridor

Setelah mengakuisisi Ophir Energy Plc, PT Medco Energi Internasional Tbk. kembali berencana menambah asetnya minyak dan gas bumi dengan melirik Blok Corridor, yang juga diminati oleh ConocoPhillips dan PT Pertamina (Persero).
David E. Issetiabudi/Nurhadi Pratomo
David E. Issetiabudi/Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  12:51 WIB
Genjot Lini Bisnis Gas, Medco Incar Blok Corridor
Medco Incar Blok Corridor

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah mengakuisisi Ophir Energy Plc, PT Medco Energi Internasional Tbk. kembali berencana menambah asetnya minyak dan gas bumi dengan melirik Blok Corridor, yang juga diminati oleh ConocoPhillips dan PT Pertamina (Persero).

Ekpansi bisnis Medco diangkat menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu (20/2/2019). Berikut laporannya.

Rencana akusisi Blok Corridor itu disampaikan Hilmi Panigoro, Presiden Direktur Medco Energi Internasional, pada Selasa (19/2/2019).

Hilmi mengatakan, keinginan emiten berkode saham MEDC ini untuk mengelola Blok Corridor di Sumatra Selatan dipicu oleh tren penemuan cadangan gas dunia yang meningkat dibandingkan dengan minyak bumi. Selain itu, diperkirakan permintaan dunia terhadap minyak bumi akan menurun setelah 2035.

Tren itu sejalan dengan produksi gas di blok itu yang jauh lebih besar dibandingkan dengan produksi minyak bumi. Saat ini, di Blok Corridor terdapat lima lapangan minyak, dan tujuh lapangan gas.

“Gas masih jadi primadona untuk pembangkit listrik. Fakta dunia sekarang terutama di Indonesia juga lebih banyak cadangan gas yang ditemukan dibandingkan dengan minyak,” katanya Selasa, (19/2/2019).

Dia menjelaskan bahwa berdasarkan aturan, pengajuan kontrak blok terminasi akan diprioritaskan untuk kontraktor existing.

Hilmi mengaku masih menunggu keputusan dari pemerintah apakah akan memperpanjang kontrak ConocoPhillips sebagai operator di blok itu, atau dialihkan kepada operator baru.

Saat ini, mayoritas saham dari Blok Corridor dipegang oleh ConocoPhillips sebesar 54%, disusul Talisman Energy Inc. (36%), dan Pertamina Hulu Energi (10%).

Blok Corridor yang saat ini dikelola oleh ConocoPhilips (Grisik) Ltd, akan masuk terminasi pada 2023. Pada tahun ini, blok gas itu diproyeksi berproduksi sebesar 145.000 boepd (barrels of oil equivalents per day), sedangkan pada 2018 sebesar 150.000 boepd.

Arandi Ariantara, analis Samuel Sekuritas, menuturkan jika MEDC sukses mendapatkan Blok Corridor maka lifting migas MEDC berpotensi naik di kisaran 85.000 boepd-90.000 boepd. “Tentu perlu dicermati karakter bloknya seperti apa. Salah-salah malah biaya produksinya lebih mahal dibandingkan dengan blok MEDC yang lain.”

Sejauh ini, ConocoPhilips sudah memasukkan proposal perpanjangan dengan menggandeng Repsol, sedangkan Pertamina juga ikut dalam persaingan pengelolaan blok gas ini untuk periode 20 tahun mendatang.

Adapun, pemerintah belum memberi sinyal kepastian tentang pengelola Blok Corridor itu.

Ketika dikonfirmasi mengenai peluang MEDC berkompetisi dalam pengelolaan Blok Corridor, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar enggan untuk berkomentar.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas Dwi Soetjipto menuturkan bahwa saat ini masih terjadi pembahasan utamnya tentang tantangan yang harus diselesaikan oleh masing-masing konsorsium. “Masih dibahas, kita tunggu ,” ujarnya.

TUNGGU MESDM

Sebelumnya, tepatnya pada 24 Januari 2019, Dwi berkomitmen menyerahkan rekomendasi pengelolaan Blok Corridor kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada akhir bulan lalu.

Dia menuturkan, setelah rekomendasi disampaikan, hasilnya akan segera diumumkan oleh Menteri ESDM. “Nanti tinggal keputusan Menteri Jonan,” katanya.

Dihubungi terpisah, Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, dengan makin banyaknya kontraktor yang berminat mengelola blok migas, sudah sebaiknya pemerintah membuka diri. “Pertamina sendiri juga membuka diri untuk bekerja sama, karena beban mereka untuk Blok Rokan saat ini tidak kecil,” katanya.

Menurutnya, jika Medco tertarik untuk mengelola Blok Corridor tersebut, dapat bekerja sama dengan PT Pertamina.

Jika Pemerintah membuka kesempatan bagi MEDC untuk mengelola Blok Corridor, portofolio perusahan energi swasta nasional ini makin perkasa.

Sebelumnya, manajemen MEDC sepakat untuk mengakuisisi perusahaan migas asal Inggris, Ophir Energy.

Hilmi mengungkapkan, saat ini Medco masih menanti kepastian voting pemilik saham mayoritas Ophir Energy untuk menyetujui kesepakatan akuisisi. Jika akuisisi rampung, kinerja Ophir akan dikonsilidasikan ke MEDC.  

Dengan masuknya Ophir, produksi MEDC diperkirakan mencapai 117.400 boepd pada 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
medco

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top