Bahagianya Repsol Mencetak Sejarah Di Sakakemang

Repsol bersama Petronas dan MOECO seketika mencuri perhatian serta membuat sektor minyak dan gas nasional lebih bergairah.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  11:28 WIB
Bahagianya Repsol Mencetak Sejarah Di Sakakemang
Blok migas - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Repsol bersama Petronas dan MOECO seketika mencuri perhatian serta membuat sektor minyak dan gas nasional lebih bergairah.

Repsol dan kolega telah membuat sejarah dengan menemukan potensi cadangan gas terbesar di Tanah Air dalam 18 tahun terakhir. Tidak sampai di situ, perusahaan migas asal Spanyol ini pun, mengklaim bahwa penemuan kali ini menjadi satu dari sepuluh penemuan terbesar dalam satu tahun terakhir.

Sumur Kaliberau Dalam 2X (KBD2X), Sumatra Selatan, yang ditajak pada 20 Agustus 2018 telah memberikan estimasi awal setidaknya 2 TCF dari sumber daya yang dapat dipulihkan. Adapun lokasi sumur berada sekitar 60 Km dari lapangan gas Suban.

Penemuan yang dilakukan di Blok Sakakemang, di mana Repsol sebagai operator memegang 45% hak partisipasi, sementara Petronas (45%) dan sisanya MOECO (10%). Setelah memukan potensi cadangan, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ini akan melanjutkan pekerjaan eksplorasi dalam beberapa bulan mendatang dengan sumur penilaian tambahan yang direncanakan.

Dalam keterangan resmi perusahaan, penemuan ini membuat Repsol lebih fokus berinvestasi di Indonesia daripada di negara Asia Tenggara lainnya. Sejauh ini, Repsol memegang beberapa lisensi di Sumatra, baik di darat maupun di lepas pantai, dan berencana untuk melaksanakan pengeboran dan akuisisi seismik yang intens dalam kurun waktu 2019 – 2020.

Untuk Asia Tenggara, Repsol juga mengelola proyek lepas pantai Kinabalu, yakni Blok PM-3 CAA PSC dengan hak partisipasi sebesar 60%.

Repsol sendiri memiliki strategi eksplorasi dan produksi yang fokus pada pengembangan aset gas bumi. Kontraktor yang berhasil membukukan 695.000 barrel oil equivalent per day (boepd) ini, menjalankan strateginya sebagai transisi menuju energi rendah karbon.

Repsol telah membuat lebih dari 50 penemuan hidrokarbon selama periode 2007—2019. Khusus di Indonesia, Repsol menghasilkan 15 juta barel setara minyak pada 2017, di Blok Corridor. Repsol sendiri terlibat dalam pengelolaan enam blok migas, dengan  lima blok eksplorasi dan satu produksi.

Selain di Sakakemang, Repsol juga telah menandatangani kontrak kerja sama (KKS) Blok South Sakakemang. Dengan mengelola blok eksplorasi ini, Repsol membuka peluang untuk mengintegrasikan fasilitas yang ada di wilayah kerja (WK) Sakakemang dan South Sakakemang untuk meningkatkan efisiensi.

Integrasi fasilitas terbuka setelah Repsol menandatangani kontrak kerja sama (KKS) Blok South Sakakemang, Senin (18/2/2019). Greg Holman, General Manager Repsol Indonesia mengungkapkan bahwa integrasi merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang. “Ya kenapa tidak, [ini sebagai] rencana ke depannya,” tuturnya.

WK South Sakakemang, merupakan blok eksplorasi yang dikelola oleh Konsorsium Repsol Exploracion South Sakakemang S.L.- MOECO South Sakakemang B.V. Konsorsium ini membayarkan bonus tanda tangan senilai US$2 juta dan KKP berupa G&G senilai US$300.000 dan seismic 2D 250 km US$2,75 juta.

Greg mengatakan pihaknya berupaya untuk mempecepat produksi WK hasil lelang Konvensional Tahap III 2018 tersebut. Hanya saja, menurutnya bicara kapan blok migas ini berproduksi.

Terkait adanya temuan potensi cadangan gas di Sakakemang, Greg mengaku sedang mengevaluasinya dan berjanji segera memberikan keterangan yang akurat tentang hasil pengeboran. “Tapi sekarang ya memang temuan itu signifikan,” tambahnya.

Terpisah, Direktur Riset Wood Mackenzie Andrew Harwood mengatakan penilaian lebih lanjut perlu dilakukan di KBD2X untuk menentukan sejauh mana penemuan dan memperkuat estimasi sumber daya.

“Wood Mackenzie memperkirakan potensi yang lebih besar dari 300 bcf, akan dianggap lebih komersial mengingat kedekatan dengan infrastruktur gas,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (17/2).

Penemuan ini, menurutnya, juga menggembirakan untuk Petronas ataupun MOECO. Belum lagi, perhatian ConocoPhillips dan Pertamina yang ingin mengetahui hasilnya, mengingat kedua KKKS ini sedang mengajukan proposal pengelolaan Blok Corridor yang berakhir 2023 mendatang.

“Blok Corridor menjadi pemasok utama gas ke Singapura dan Jawa Barat, tetapi diperkirakan akan mengalami penurunan output dari 2024. Dengan adanya sumber pasokan baru juga akan menjadi berita positif bagi pembeli gas di pasar tersebut,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
migas, gas, conocophillips

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top