Tren Perbaikan Konsumsi Rumah Tangga Diprediksi Berlanjut

Tren perbaikan konsumsi rumah tangga diperkirakan akan berlanjut seiring dengan adanya perhelatan pemilihan umum dan dampak realisasi investasi.
Hadijah Alaydrus | 11 Februari 2019 20:38 WIB
September terjadi deflasi. - JIBI/Alby Albahi

Bisnis.com, JAKARTA--Tren perbaikan konsumsi rumah tangga diperkirakan akan berlanjut seiring dengan adanya perhelatan pemilihan umum dan dampak realisasi investasi.

Konsumsi rumah tangga terhadap PDB pada 2018 tumbuh 5,05%. Pertumbuhan tertinggi setelah 2014 yang mencapai 5,14%. 

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Aida S. Budiman mengatakan konsumsi rumah tangga berpeluang tumbuh di atas 5% pada tahun ini. 

Salah satu, motornya adalah pemilihan umum (Pemilu), baik pemilihan presiden dan legislatif. 

"Kalau mengikuti pola historisnya akan tinggi karena ada Pemilu di April," kata Aida, Senin (11/2).

Selain itu, dia mengungkapkan hasil realisasi investasi dan bantuan sosial yang disalurkan pemerintah akan turut berpengaruh. Adapun, tantangan yang diperhatikan bank sentral adalah penyesuaian harga di luar skenario (downside risks).

Downside risks yang dimaksud a.l. penyesuaian harga BBM dan tarif listrik. Namun, BI telah memperhitungkan downside risk tersebut sejauh ini. 

"Sejauh ini tidak ada alasannya. Harga minyak turun kan," ujar Aida. 

Direktur Eksekutif CORE Indonesia M. Faisal mengungkapkan tren perbaikan konsumsi rumah tangga di dalam negeri ini bertolak belakang dengan kondisi global sepanjang tahun lalu yang cenderung mulai melemah. 

Sepanjang 2018, Faisal melihat masyarakat cenderung lebih berani untuk berbelanja.

"Ini terliat dari proporsi pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi yang mengalami kenaikan sepanjang 2018, sementara proporsi untuk tabungan justru mengalami penurunan," kata Faisal. 

Menurutnya, faktor penyebab konsumsi rumah tangga memperlihatkan perbaikan  adalah transmisi pelemahan rupiah terhadap ekonomi domestik yang relatif masih tertahan pada level produsen saja. 

Artinya, produsen tidak menyesuaikan harga akibat biaya produksi yang meningkat. 

Faktor lainnya adalah kebijakan pemerintah yang menahan kenaikan administered prices, terutama harga BBM subsidi. Inflasi volatile food atau pangan bergejolak yang relatif terkendali juga berpengaruh. 

Dari sisi pendapatan, Faisal melihat kenaikan pendapatan kelompok menengah atas tidak terlalu signifikan. Pasalnya, beberapa harga komoditas mengalami penurunan, kecuali batubara yang masih tinggi pada semester pertama tahun lalu. 

"Tapi untuk menegah ke bawah, saya rasa ada dampak berbagai kebijakan baru seperti kenaikan tunjangan hari raya bagi ASN dan peningkatan upah minimum, walau relatif kecil," ungkap Faisal. 

Ke depannya, dia memperkirakan konsumsi akan berlanjut stabil pada tahun ini. Pertama, pengaruh tekanan terhadap rupiah sudah minim. Kedua, kebijakan baru pemerintah seperti kenaikan gaji, tunjangan ASN dan peningkatan bantuan sosial (bansos) akan turut berpengaruh. 

Ketiga, konsumsi rumah tangga akan didorong oleh efek Pemilu. "Pemilu masih berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi, meskipun sebenarnya relatif kecil dibanding Pemilu periode-periode lalu," ujar Faisal. 

Tag : konsumsi rumah tangga
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top