Pemerintah Dorong Kerja Sama Bilateral untuk Baterai Kendaraan Listrik

Baterai menjadi komponen terpenting di dalam kendaraan listrik. Untuk mempermudah implementasi Electric Vehicle (EV), pemerintah pun mendorong kerja sama bilateral dalam pembuatan baterai.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 31 Januari 2019  |  06:18 WIB
Pemerintah Dorong Kerja Sama Bilateral untuk Baterai Kendaraan Listrik
Stasiun penyediaan listrik umum (SPLU) - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Baterai menjadi komponen terpenting di dalam kendaraan listrik. Untuk mempermudah implementasi Electric Vehicle (EV), pemerintah pun mendorong kerja sama bilateral dalam pembuatan baterai.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian  Harjanto mengungkapkan, salah satu upaya pemerintah mempercepat pengembangan kendaraan listrik di dalam negeri ialah menarik investasi untuk pembuatan baterai.

Teknologi baterai merupakan bagian penting dalam kendaraan listrik. Selain itu, komponen baterai diharapkan berasal dari bahan baku di dalam negeri.

Kemenperin sudah melakukan komunikasi dengan calon investor dari Korea Selatan, Jepang, dan sejumlah negara lain. Negara-negara tersebut menjadi patner potensial karena sudah mengembangkan teknologi kendaraan listrik.

“Hal ini tentunya dapat mendukung investasi bahan baku baterai yang sudah dimulai di Indonesia. Di Morowali, sudah ada investor materialnya, dalam 16 bulan ke depan mereka sudah siap beroperasi. Karena itu, berikutnya kami terus dorong untuk pembangunan pabrik baterainya,” paparnya, dikutip Kamis (31/1/2019).

Pada awal 2019, PT QMB New Energy Materials di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, melakukan ground breaking proyek industri smelter berbasis teknologi hydro metallurgy.

Proyek yang diprakarsai investor asal China tersebut bertujuan memenuhi kebutuhan bahan baku baterai lithium generasi kedua berbahan baku nikel dan kobalt. Nantinya, produk hilirnya dapat digunakan untuk kendaraan listrik.

Total investasi yang ditanamkan sebesar US$700 juta atau sekitar Rp144 triliun secara bertahap. Diperkirakan proyek itu menghasilkan devisa senilai US$800 juta per tahun.

Dari pabrik yang bakal menyerap total tenaga kerja sebanyak 2.000 orang itu, setiap tahunnya akan memproduksi sebanyak 50.000 ton produk intermediate nikel hidroksida, 150.000 ton baterai kristal nikel sulfat, 20.000 ton baterai kristal sulfat kobalt, dan 30.000 ton baterai kristal sulfat mangan.

Harjanto pun menegaskan, komitmen Kemenperin dalam memacu kendaraan listrik, terwujud dari inisiasi pembuatan peta jalan pengembangan industri otomotif nasional, yang salah satunya fokus pada produksi kendaraan emisi karbon rendah atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Mobil Listrik

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top