Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perang Dagang AS vs China, Indonesia Bisa Apa? Ini Penjelasan Menteri Airlangga di WEF

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan perang dagang AS-China menciptakan peluang baru bagi Indonesia. Sektor industri yang berpotensi menjaring peluang investasi lebih besar dari imbas perang dagang, antara lain tekstil dan alas kaki, serta otomotif hingga baja.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  12:10 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian di pabrik garmen PT Citra Abadi Sejati, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
Pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian di pabrik garmen PT Citra Abadi Sejati, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Belum ada tanda-tanda perdamaian atas sengketa dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, yang masih saling balas serangan kebijakan.Negara berkembang diperkirakan turut terdampak, tak terkecuali Indonesia.
 
Namun, di tengah badai perang dagang, masih terdapat celah berkah yang bisa digapai. Asalkan pemerintah cermat menangkap tren dampak perang dagang dengan kebijakan yang responsif, juga akomodatif.
 
Hal inilah yang dilontarkan Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di sela-sela pertemuan forum ekonomi dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss.
 
Menurutnya, perang dagang AS-China menciptakan peluang baru bagi Indonesia. Sektor industri yang berpotensi menjaring peluang investasi lebih besar dari imbas perang dagang, antara lain tekstil dan alas kaki, serta otomotif hingga baja.
 
Hal ini terlihat dari beberapa perusahaan manufaktur Negeri Panda yang ingin memindahkan basis produksinya ke Indonesia demi menghindari tarif tinggi yang dikenakan AS.
 
“Beberapa industri tekstil dan alas kaki global sedang mempertimbangkan pemindahan pabrik dari China ke Indonesia,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Kamis (24/1/2019).
 
Rencananya, pada 2019, ada investor China yang bakal menanamkan modal sebesar Rp10 triliun di sektor industri tekstil. Investasi ini mengarah kepada pengembangan sektor menengah atau midstream, seperti bidang pemintalan, penenunan, pencelupan, dan pencetakan.
 
Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara tujuan utama bagi investor China. Kondisi ini diklaim sejalan dengan komitmen pemerintah yang terus menciptakan iklim investasi kondusif dan memberikan kemudahan dalam proses perizinan usaha. 
 
“Salah satu contohnya, para investor dari China membangun kawasan industri baru di Sulawesi Tengah, yang selama lima tahun ini telah berinvestasi sebanyak US$5 miliar dan ekspor dari lokasi tersebut sudah mencapai US$4 miliar,” paparnya.
 
Menurut Airlangga, selain ada penambahan investasi baru, perang dagang AS-China juga membawa dampak bagi pelaku industri di Indonesia untuk memacu utilitas atau kapasitas produksi dalam upaya mengisi pasar ekspor ke dua negara tersebut. 
 
“Kita telah ekspor baja ke AS, sehingga harapannya bisa memasukkan lebih banyak lagi produk itu,” tuturnya. 
 
Pada Januari-November 2018, ekspor besi dan baja Indonesia ke AS melonjak hingga  87,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, total ekspor Indonesia ke AS tercatat tumbuh 3% pada periode yang sama.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top