Garuda Indonesia Group dan AirAsia Indonesia Buka Peluang KSO

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengaku inisiasi KSO muncul dari pihak AirAsia.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 21 Desember 2018  |  15:47 WIB
Garuda Indonesia Group dan AirAsia Indonesia Buka Peluang KSO
Aktivitas penerbangan di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (18/12/2018). - ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA -- Garuda Indonesia Group semakin getol menambah pangsa pasar seiring dilakukannya pembicaraan mengenai peluang menjalin Kerja Sama Operasional (KSO) dengan AirAsia Indonesia.

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau yang akrab disapa Ari Askhara mengaku inisiasi KSO muncul dari pihak AirAsia.

"Mereka minta KSO dengan kami. Namun, saya belum membicarakan detailnya dengan Pak Dendy [CEO AirAsia Indonesia]," ujarnya usai menggelar paparan publik di Jakarta, Jumat (21/12/2018).

Ari menambahkan KSO tersebut masih akan dilihat peluang keuntungannya. Tetapi, AirAsia dinilai memiliki kekuatan dalam hal jaringan rute internasional.

Perusahaan pelat merah ini berencana menerjunkan Citilink Indonesia dalam rencana KSO tersebut. Anak usaha Garuda tersebut diharapkan bisa mengukuhkan dominasi di kawasan regional, bahkan ekspansi ke internasional.

"Kami terbuka saja. Belum sampai review, kami baru bicara saja," terangnya.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada 2017, pangsa pasar rute domestik Garuda Group mencapai 33%. Adapun pangsa pasar AirAsia Indonesia dalam periode yang sama hanya 1% untuk domestik dan 26% untuk rute internasional dengan jumlah penumpang mencapai 4,36 juta orang.

Sebelumnya, emiten berkode GIAA ini juga sudah menjalin KSO dengan Sriwijaya Air Group. Kerja sama tersebut hanya dalam lingkup manajemen, peningkatan keselamatan dan keamanan, serta pengembangan produk.

Ari menyebut perseroan akan membantu maskapai milik Chandra Lie tersebut untuk memenuhi kewajibannya. Adapun kreditur yang menjadi pemegang piutang terbesar sebagian besar merupakan BUMN.

Dia memerinci kewajiban Sriwijaya kepada PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Tbk. mencapai US$58 juta, Pertamina sebesar US$60 juta, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. sebanyak Rp500 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
air asia, garuda indonesia

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top