LAPORAN ADB: Kuatnya Permintaan Domestik Jadi Penopang Ekonomi Indonesia

Asian Development Bank (ADB) menilai kuatnya permintaan domestik Indonesia telah mendukung pertumbuhan PDB Tanah Air menjadi 5,2% di sepanjang Januari—September tahun ini, atau sesuai dengan perkiraan ADB. 
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 12 Desember 2018  |  20:50 WIB
LAPORAN ADB: Kuatnya Permintaan Domestik Jadi Penopang Ekonomi Indonesia
Kuatnya permintaan domestik Indonesia telah mendukung pertumbuhan PDB Tanah Air - ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) menilai kuatnya permintaan domestik Indonesia telah mendukung pertumbuhan PDB Tanah Air menjadi 5,2% di sepanjang Januari—September tahun ini, atau sesuai dengan perkiraan ADB. 

Pada tahun ini, ADB juga tetap memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5,2%, atau sama seperti perkiraan sebelumnya.

“Konsumsi rumah tangga meningkat, investasi tetap melaju dengan rampungnya tahapan konstruksi beberapa proyek,” tulis ADB, Rabu (12/12/2018).

Pada saat bersamaan, menguatnya permintaan domestik juga mendorong impor di tengah perlambatan permintaan ekspor di sisi global.

Sementara  itu, karena ekspor bersih berpotensi tertekan akibat melambatnya permintaan global sementara impor kian melaju untuk mendukung proyek infrastruktur pada paruh pertama 2019, ADB pun memangkas perkiraan pertumbuhan Indonesia sebesar 0,1% menjadi 5,2% pada tahun depan dari perkiraan sebelumnya.

Selain itu, ADB menjelaskan, investor swasta juga diperkirakan masih akan menunggu perkembangan selanjutnya di Indonesia untuk beraktivitas dan pertumbuhan kredit sektor swasta kemungkinan melemah karena kebijakan moneter lebih fokus untuk stabilitas ketimbang pertumbuhan pada tahun depan.

Sementara dari sisi inflasi, ADB merevisi turun perkiraan kenaikan harga untuk negara berkembang Asia menjadi 2,6% dari perkiraan ADO September sebesar 2,8% pada 2018 dan 2,7% pada tahun depan dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,8%.

“Harga komoditas telah berada dalam tren penurunan (downtrend) sejak rilis laporan ini. Bank Sentral juga terus mengimplementasikan kebijakan yang dapat mengendalikan volatilitas harga dan nilai tukar akibat menguatnya dolar AS,” tulis ADB.

Selain itu, ADB mencatat alasan lain untuk pelemahan inflasi juga berasal dari dampak cuaca buruk dan bencana alam, perlambatan permintaan global, dan meningkatnya tensi dagang antara AS dan China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi, adb

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup