Survei: Para Pemimpin Perusahaan Masih Optimistis Prospek Bisnis di Indonesia

Berdasarkan Business Barometer: Indonesia CEO Survey yang dilakukan oleh Oxford Business Group (OBG), para CEO yang disurvei tetap merasa optimis terhadap prospek bisnis di Indonesia.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 26 November 2018  |  18:02 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Berdasarkan Business Barometer: Indonesia CEO Survey yang dilakukan oleh Oxford Business Group (OBG), para CEO yang disurvei tetap merasa optimis terhadap prospek bisnis di Indonesia.

Namun, mereka memberikan tanggapan yang berbeda-beda terhadap upaya pemerintah dalam menarik investor untuk membiayai proyek infrastruktur menjelang pemilihan pada bulan April 2019.

OBG mensurvei 112 pemimpin perusahaan (CEO, COO, CFO, dan yang setara) dari berbagai sektor industri di Indonesia untuk melakukan wawancara tatap muka dan menanyakan beragam pertanyaan untuk mengukur sentimen bisnis. 

Hasil survey menunjukkan bahwa bahwa 80% responden menilai kondisi bisnis di Indonesia selama beberapa tahun mendatang akan menjadi positif atau sangat positif. Tingkat optimisme ini lebih tinggi dibandingkan dengan 76% responden dari hasil survei yang diterbitkan pada awal tahun ini.

Namun, hanya 43% responden yang menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah berhasil dalam melibatkan sektor swasta untuk mendukung pengembangan proyek-proyek infrastruktur dalam negeri. Sekitar 23% responden memberikan penilaian netral, sedangkan 29% lainnya menilai bahwa pemerintah tidak berhasil dalam meningkatkan public-private partnerships.

Para responden juga memiliki tanggapan yang berbeda-beda mengenai kemudahan akses perkreditan di Indonesia. Sebesar 48% responden menyatakan bahwa akses perkreditan di Indonesia mudah atau sangat mudah, sedangkan 38% lainnya menyatakan sulit.

Survei juga mengungkapkan keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh tenaga kerja dalam negeri, para responden paling tinggi adalah kepemimpinan (32%), teknologi komputer (21%), engineering (20%), dan research & development (16%) merupakan yang paling utama. Namun, para responden lebih menyoroti permasalahan mengenai banyaknya tenaga kerja dalam negeri yang tidak lulus SMP/SMA di Indonesia.

Survei ini juga menunjukkan adanya pergeseran persepsi para CEO mengenai faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia dalam jangka pendek ataupun menengah. Para responden sangat khawatir terhadap kemunculan kebijakan proteksionisme dalam perdagangan dan kenaikan harga barang impor.

Hal ini berbeda dengan survey sebelumnya di mana responen merasa sangat khawatir terhadap fluktuasi permintaan (demand) dari China.

Seiring dengan berlanjutnya perselisihan antara AS-Cina dan kabar rancu mengenai dihapusnya Indonesia dari daftar pembebasan tarif ekspor ke AS yang terdapat dalam Generalised Scheme of Preferences, sebanyak 30% responden menilai bahwa kebijakan proteksionisme dalam perdagangan merupakan risiko paling utama yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia.

Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan 23% dalam survei yang dirilis pada bulan Januari tahun ini. Lalu, 23% responden lain juga khawatir terhadap fluktuasi permintaan (demand) dari Tionghoa. Angka ini juga menurun dibandingkan dengan 38% dalam survei yang dirilis pada bulan Januari tahun ini.

Dalam blognya, Patrick Cooke selaku Regional Editor for the Middle East OBG mengatakan, meskipun ajang pemilu semakin dekat dan nilai Rupiah semakin melemah, sentimen positif ini merupakan kabar baik bagi kepemerintahan Presiden Jokowi, apalagi beliau berencana untuk kembali mencalonkan diri pada pemilu tahun 2019.

"Meskipun ada kemajuan, tanggapan negatif dari responden menunjukkan bahwa tidak semua target ambisius pemerintahan Jokowi untuk mengembangkan infrastruktur dapat diselesaikan sebelum pemilu 2019," tulisnya dalam siaran persnya.

Dia menjelaskan meskipun pemerintah sudah berhasil meningkatkan Public–Private Partnerships (PPP), hasil survei kami menunjukkan bahwa responden menganggap pemerintah perlu melakukan upaya lebih lanjut untuk mengembangkan proyek-proyek tersebut agar lebih bankable dan menarik para investor asing.

Survey ini juga menyoroti pentingnya upaya-upaya untuk mengembangkan mesin penggerak perekonomian bernilai tinggi (high value) dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu memenuhi tuntutan pasar dan terbebas dari middle-income trap.

“Pemerintah Jokowi juga telah berhasil membuat kemajuan besar dengan meluncurkan strategi Making Indonesia 4.0 tahun ini dalam rangka mendorong perkembangan industri manufaktur bernilai tambah pada sejumlah sektor tertentu. Apabila kembali terpilih menjadi presiden, salah satu tantangan yang perlu dihadapi oleh Presiden Jokowi ialah memenuhi tuntutan industri high-value yang membutuhkan sumber daya manusia berkualitas,” ujar Cooke.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perusahaan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup