Riset: Mobil Listrik Menghemat Energi Hingga 80%

Hasil riset yang menunjukkan mobil listrik 80% lebih hemat energi dibandingkan mobil konvensional menjadi pendorong bagi pemerintah untuk mengembangkan mobil listrik.
Wibi Pangestu Pratama | 07 November 2018 08:49 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri) berpose bersama Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahjono saat acara Kickoff Electrified Vehicle Comprehensive Study di Jakarta, Rabu (4/7). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Hasil riset yang menunjukkan mobil listrik 80% lebih hemat energi dibandingkan mobil konvensional menjadi pendorong bagi pemerintah untuk mengembangkan mobil listrik.
 
Hasil tersebut ditunjukkan oleh riset yang dilakukan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), berbagai perguruan tinggi, dan industri otomotif. Riset itu memperlihatkan mobil listrik lebih hemat energi dibanding mobil yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).
 
Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menjelaskan rata-rata mobil listrik jenis hybrid bisa menghemat energi sampai 50% dan mobil plug-in hybrid hingga 75%-80%. Penggunaan mobil listrik pun dinilai dapat menghemat BBM hingga dua kali lipat dibandingkan yang memakai biodiesel (B20).
 
“Kalau program B20 saja sudah bisa menghemat sekitar 6 juta kiloliter BBM, maka dengan hybrid atau plug-in hybrid akan ada dua kali penghematan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (6/11/2018).
 
Riset pada tahap pertama tersebut merupakan laporan dari tiga perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketiga perguruan tinggi tersebut telah melakukan uji coba terhadap mobil listrik Toyota jenis hybrid dan plug-in hybrid.
 
Tujuan riset tersebut adalah membahas karakteristik teknis, kemudahan pengguna, dampak lingkungan, sosial dan industri, serta kebijakan dan regulasi yang akan ditetapkan ketika teknologi mobil listrik sudah berkembang. Riset itu pun sejalan dengan program mobil listrik nasional (molina) yang digagas Kemenristekdikti.
 
Setelah tahap pertama, Kemenperin akan melanjutkan laporan hasil riset mobil listrik terkait dengan aplikasi, ketahanan dan ketersediaan infrastruktur. Riset tahap kedua dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Udayana yang ditargetkan rampung pada Januari 2019.
 
Pelibatan berbagai perguruan tinggi bertujuan agar terjadi integrasi, mulai dari riset hingga aplikasi. Airlangga menjelaskan hal tersebut bisa mendukung ekosistem yang terpetakan di perguruan tinggi.
 
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menjelaskan secara internal proses studi saat ini sudah selesai. Menurutnya, hasil riset tersebut tinggal dikolaborasikan dengan industri untuk memanfaatkan inovasi mobil listrik tersebut.

“Tidak akan bisa jalan jika tidak ada industri yang akan menggunakan inovasi ini," tutur Nasir.
 
Dia menambahkan pemerintah juga berencana memfasilitasi dan memediasi akademisi dengan industri yang akan memanfaatkan hasil studi tersebut. Salah satunya, melalui pemberian insentif industri seperti super tax deduction.
 
Dalam upaya pengembangan kendaraan listrik, Kemenperin telah mengusulkan pemberian insentif fiskal berupa tax holiday, Bea Masuk Ditanggung Pemerintah, serta pembiayaan ekspor dan bantuan kredit modal kerja untuk pengadaan battery swap kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
 
Pengembangan mobil listrik dapat merealisasikan rencana menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030, sekaligus menjaga ketahanan energi khususnya di sektor transportasi darat. Selain itu, Airlangga mengharapakan target 20% untuk produksi kendaraan emisi karbon rendah atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) pada 2025 dapat tercapai.

Tag : mobil listrik
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top