Produksi Beras: Wapres Jusuf Kalla Minta Teknologi Bibit Ditingkatkan

Pemerintah menegaskan tidak perlu mencetak lahan sawah baru untuk meningkatkan produksi beras kendati area persawahan kian berkurang.
Lingga Sukatma Wiangga | 23 Oktober 2018 16:32 WIB
Pekerja membersihkan gudang beras Bulog Divre Sulselbar di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6/2016). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menegaskan tidak perlu mencetak lahan sawah baru untuk meningkatkan produksi beras kendati area persawahan kian berkurang.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa lahan baku sawah pada 2013 seluas 7,7 juta hektare. Adapun saat ini lahan baku sawah hanya 7,1 juta hektare.

Dengan luas lahan baku tersebut, luas panen tahun ini hanya sebesar 10,9 juta hektare. Perhitungan luas panen itu termasuk sawah yang ditanami dan panen lebih dari satu kali.

“Tidak perlu [mencetak sawah baru]. Teknologi bibit saja dinaikkan. Kalau 7,1 juta hektare luas panennya dikali enam saja kita bisa ekspor. Tidak sulit menaikkan 6 [kali panen] dengan dana,” ujarnya di Kantor Wakil Presiden RI, Selasa (23/10/2018).

Wapres Kalla menuturkan sudah membicarakan bagaimana menetapkan ‘sawah abadi’ untuk menjaga ketersediaan area kendati hak pemilik idak bisa dihalangi dalam hal alih fungsi lahan.

Di sisi lain dengan adanya pengurangan lahan menurut JK otomatis akan mempengaruhi subsidi pupuk dan benih.

“Ya nanti [pengurangan subsidi] dihitung. Belum tahu angkanya. Over itu. Ya kita hitung ulang,” katanya.

Tag : Harga Beras, jusuf kalla, sawah, produksi beras
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top